Bingung Pilih Cloth Diaper? Baca Pengalaman Saya Dan Kenzo Dulu Ya…

Belakangan ini banyak beredar merk-merk cloth diaper baru, dari yang berharga belasan ribu sampai tiga ratus ribuan per bijinya. Saya pengen sharing tentang pengalaman bayi saya, Kenzo, selama pakai cloth diaper mulai umur dua bulan sampai sekarang, hampir sepuluh bulan.

Bagi yang belum pernah pakai dan berniat beli, mungkin bingung milih cloth diaper yang mana. Kalau saya sendiri dulu dimulai dari beli cloth diaper mahal berharga rata-rata dua ratus lima puluh ribuan (baca artikel saya Selamat Datang Cloth Diaper), Senangnya Pakai Cloth Diaper, dan Review Cloth Diaper. Saya punya BumGenius, Happy Heinys, Fuzzy Bunz, Bumwear, dan Wonderoos. Jujur saja, dari rencana memakaikan clodi hanya untuk tidur siang dan malam, ternyata lama-lama saya keenakan dan memakaikannya sepanjang hari. Malah, kalau malam hari Kenzo terpaksa pakai disposable diaper karena pipisnya banyak banget. Kalo pakai clodi pasti deh bocor ke mana-mana.

Lalu kira-kira dua bulan lalu, saya beli lagi beberapa clodi lokal, termasuk di antaranya celana sistem serap merk Nice Kids. Harganya cuma lima belas ribu rupiah, tapi ternyata saya paling jatuh cinta dengan clodi yang satu ini. Mengapa?

Satu, bentuknya slim. Paling ramping kalo dipake. Saya suka dengan kerampingannya sehingga bisa didobel dengan celana panjang kalau lagi ke luar rumah.

Dua, nggak bocor (untuk sekali pipis), dan nggak bikin paha Kenzo merah.

Tiga, gampang dicuci kalo kena pup. Dianjurkan cuci pakai tangan untuk memelihara daya tahan clodi, tapi boleh juga kalo mau pake mesin cuci.

Empat, satu ukuran (all size). Kalo clodinya dirawat dengan baik, bisa dipakai dalam jangka waktu lama.

Lima, dan paling penting, harganya murah meriah. Paling murah di antara clodi lokal lain yang saya punya. Rasanya nggak begitu masalah di dompet kalo mau beli sepuluh atau dua puluh clodi ini. Mengapa saya bilang faktor murah ini paling penting? Karena kita jadi bisa beli banyak. Dengan kita punya banyak clodi, bayi jadi bisa sering ganti clodi. Sekali pipis, langsung ganti. Bukan dua kali atau tiga kali pipis baru diganti. Kecuali keadaan darurat seperti lagi di luar rumah, atau bayi masih tidur pulas dan kita nggak tega ngebangunin he he… Intinya, sama dong kayak kita, kan nggak nyaman ya kalo abis pipis celananya nggak langsung diganti. Bahkan misalnya lagi pake clodi mahal yang sanggup menampung pipis sampai tiga-empat kali, saya tetap langsung mengganti clodi begitu udah dipipisin sekali saja, meski baru dipakai lima menit. Gampang kok mendeteksinya, dari bau pesing aja udah cukup he he…

Jadi kesimpulannya, kalo saya lebih suka memakaikan clodi Nice Kids untuk sehari-hari di rumah. Sedangkan kalo lagi ke luar rumah, Kenzo pakai clodi impor yang daya tampung pipisnya lebih banyak.

Semoga pengalaman saya bisa membantu buat moms yang kebingungan milih cloth diaper. Oya, postingan saya ini murni pengalaman pribadi, saya nggak dibayar pihak manapun untuk mempromosikan produk tertentu. Menurut saya, silakan dicoba clodi merk apa yang paling cocok, terus usahakan punya dalam jumlah banyak supaya sekali pipis bisa langsung diganti. Ingat, clodi fungsinya adalah seperti celana kain biasa, tapi melindungi kasur supaya nggak kena pipis bayi, di lain pihak bayi harus tetap merasa nyaman dengan clodinya. Clodi bukanlah celana untuk menampung pipis berkali-kali.

Happy cloth diapering!

Review Cloth Diaper

Bulan lalu ada tambahan empat stok cloth diaper untuk Kenzo. Jadi total stok cloth diaperku sampai saat ini ada enam. Ini reviewku tentang cloth diaper setelah memakaikan ke anakku selama kurang lebih satu bulan. Oya saat ini umur Kenzo 3 bulan, dengan BB 6 kg.

BumGenius, warna Twilight, velcro

Awalnya agak ragu untuk pesan cloth diaper yang pakai velcro. Eh, ternyata setelah beberapa kali pakai langsung suka, terutama oleh kepraktisannya. Perkiraanku clodi velcro bakal jadi favorit setelah Kenzo bisa merangkak, karena lebih gampang makeinnya dibanding yang pakai snap/kancing. Oya insertnya BumGenius ada 2, yang kecil untuk newborn dan yang besar untuk kalo bayinya udah agak gede. Kalo bayi udah gede, insert yang kecil bisa ditambahkan sebagai doubler. Sementara ini karena Kenzo masih kecil, aku makeinnya yang kecil aja. Insert kecil ini dibanding merk lain yang aku punya, bentuknya paling tipis karena cuma 2 lapis (rata-rata insert merk lain 3 lapis). Meskipun begitu daya serapnya oke dan ga pernah bocor untuk rata-rata pemakaian 3 jam. Oya saat ini Kenzo masih pakai settingan paling kecil untuk BumGenius.

Happy Heinys, motif Cow, velcro

Ini hampir sama dengan BumGenius. Cuma bedanya HH ini agak tebal di daerah ’sabuk’ dibanding BumGenius, karena ukuran velcronya memang dibuat full (lebih besar). Yang ini aku paling suka motifnya. Lucu dan gaya.

Fuzzy Bunz, warna Apple Green, snap

Nah ini favoritku nomor satu. Kenapa? Karena dia setingan ukuran pahanya ada di dalam, tidak seperti clodi-clodi lainnya. Jadi dari luar kelihatan paling rapi, nggak banyak kancing bertebaran. Inovasi dia yang bikin setingan ukuran paha pakai karet, sangat fleksible dan menurutku paling nyaman untuk bayi. Kalau clodi lain umumnya pakai snap, dan biasanya pakai sistem dilipat di daerah perut. Nah kalau pakai karet ini jauh lebih fleksibel.

Bumwear, warna navy dyno, snap

Ini clodi pertama yang aku punya. Kalau ini aku paling suka insertnya, paling gampang masukinnya ke cover karena dijahit membentuk kantong. Hm, agak susah jelasinnya kalau gak pakai gambar sih.

Wonderoos, warna natural, snap

Kalau yang satu ini terus terang ga begitu pas di badan Kenzo. Tapi kalau untuk bayi yang lebih besar, banyak yang puas dengan Wonderoos. Mungkin karena kancing untuk melipat cuma ada dua, jadi kalo dipakai bayi newborn kelihatan ga begitu rapi. Kalau clodi lain seperti BumGenius dan Happy Heinys, ada 3 kancing sehingga bisa rapi. Positifnya, insert Wonderoos ini bentuknya paling mengikuti lekuk pantat bayi, nggak seperti insert lain yang biasanya berbentuk kotak segi panjang. Dilihat dari bentuk dan tebal insertnya, Wonderoos ini oke banget untuk bayi yang lebih besar.

Cloth Diaper dari Tolly Joy, warna biru pastel, velcro

Untuk clodi terakhir ini aku nggak nyangka sama sekali kalau bakal nemuin pas pulang kampung (Kudus). Waktu jalan-jalan ke Matahari Dept Store, iseng-iseng aku nanya ke mbak yang jaga stan bayi, apakah ada cloth diaper. Eh… ternyata ada. Clodi ini harganya kalo ga salah sekitar 37 ribuan, covernya saja. Jadi tanpa insert. Dia juga pakai sistem kantong. Tapi waktu aku tanya apakah jual insertnya juga, ternyata ga ada. Jadi aku tetap beli dengan harapan bisa pakai insert dari clodi merk lain. Ternyata bisa juga. Biasanya aku pakein clodi ini setelah mandi sore, karena di saat-saat itu pipisnya paling jarang. Aku pakein insertnya BumGenius yang kecil, yang cuma 2 lapis. Ternyata pas banget. Cuma aku nggak pakein clodi yang ini lama-lama. Kalo udah pipis, ya langsung ganti. Clodi ini ga bocor kalau cuma dipipisin. Pernah sekali waktu Kenzo pup pas pakai clodi ini. Eh… tembus lewat atas. Bagian pahanya sih gak tembus. Pupnya Kenzo kan masih encer kayak pasta. Jadinya belepotan ke mana-mana. He he…

Hm, segitu dulu deh reviewku tentang cloth diaper. Oya meskipun udah punya cloth diaper, bayi tetap harus sering-sering dipakein popok kain yang cuma satu lapis itu lho, karena kulit bayi juga perlu bernafas. Kalau lagi ganti clodi, biarkan bayi telanjang dulu untuk beberapa menit. Clodinya bisa dipakaikan pas bobo siang dan malam saja, atau pas bayi lagi pengen digendong terus he he…

Senangnya Pakai Cloth Diaper

Memang sesuai nih dengan harganya yang melebihi harga pakaianku yang paling mahal… Rencananya mo beli yang banyak supaya bener-bener bebas dari disposable diaper lagi.

Yuk hitung-hitungan dulu, dengan asumsi disposable cuma dipakai malam hari, 2 kali ganti:

Keperluan disposable diaper sebulan = 30 hari x Rp 1500 x 2 = Rp 90.000
Kalau dipakai minimal 2 tahun = Rp 90.000 x 24 = Rp 2.160.000

Padahal kalo belum tentu sehari cuma 2 diaper. Bagaimana kalau dipakai sepanjang hari? Hm, bisa dikira-kira nih habis berapa cuma buat beli diaper yang sekali pakai langsung dibuang.

Sedangkan kalau one-size cloth diaper, dengan asumsi harga per-setnya (cover + insert) Rp 250.000, berarti dengan uang dua juta rupiah udah bisa dapat 8 set cloth diaper yang bisa dicuci ulang, bahkan bisa diwariskan ke adik-adiknya.

Kalau aku, jelas pilih cloth diaper dong!

Ini nih sebagian keunggulan one-size cloth diaper:

  • tidak mengandung bahan kimia berbahaya seperti pada disposable diaper
  • lebih ramah lingkungan, lebih mudah didaur ulang
  • bisa dicuci dengan mudah, tinggal dicemplungin ke mesin cuci
  • bahannya anti bocor, tapi juga breathable
  • warna dan motif lucu-lucu, ga perlu pakai celana lagi di luarnya
  • lebih irit dalam jangka panjang, apalagi kalau toilet trainingnya di usia lebih dari 2 tahun

Bukan promosi nih. Aku sih nggak jualan cloth diaper :)

Waktu masa-masa setelah melahirkan dan harus pakai softex tiap hari, rasanya ga nyaman banget. Aku yakin Kenzo juga lebih suka pakai cloth diaper daripada “paper underwear”. Rela nih ga beli baju dulu buat aku. Lebih baik uangnya dipakai buat beli cloth diapernya Kenzo.

Selamat Datang Cloth Diaper

Hari ini kiriman cloth diaper-ku datang: Bumwear warna navy-dino dan Wonderoos warna natural. Tapi sementara belum bisa upload foto Kenzo bersama cloth diapernya. Besok rencananya mau dicuci dulu, karena menurut petunjuknya harus dicuci-jemur-kering minimal tiga kali untuk memaksimalkan daya serap.

Bumwear (navy-dino)

bumwear-navy-dino

Wonderoos (natural)

wonderoos-natural

Seumur-umur baru kali ini nyoba pakai cloth diaper. Untuk merek juga masih nyoba, mana yang paling pas buat Kenzo.

Tekadku mo ngurangin pemakaian disposable diaper. Selama ini kalo pake popok kain yang cuma selembar, agak repot, apalagi Kenzo suka minta gendong daripada tiduran manis di kasur. Kalo di kasur sih bisa dilindungi pakai perlak.

Tadi waktu nyoba yang Wonderoos, Kenzo pipis he he… Ternyata betul, yang basah cuma insertnya, sementara lapisan kantongnya langsung kering.

Selamat datang cloth diaper!