<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Effi Haryanti &#187; Effi&#8217;s Fiction Stories</title>
	<atom:link href="http://www.effiharyanti.com/category/effis-fiction-stories/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.effiharyanti.com</link>
	<description>Once In A Lifetime</description>
	<lastBuildDate>Fri, 04 Jun 2010 14:45:29 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Nina’s Diary 011705</title>
		<link>http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-011705/</link>
		<comments>http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-011705/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Jan 2005 13:16:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Effi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Effi's Fiction Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-011705/</guid>
		<description><![CDATA[17 Januari 2005, 21.00
Kemarin nggak ada kejadian menarik. Mungkin juga karena aku mempergunakan hari libur kemarin dengan kegiatan makan dan tidur saja. Bangun jam 11 siang, makan pagi sekaligus makan siang, lalu tidur siang, bangun jam 6 sore, mandi, makan, terus baca buku sampai ketiduran.
Hasilnya, pagi tadi aku bangun dengan badan pegal semua, ditambah kepala [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>17 Januari 2005, 21.00</strong><br />
Kemarin nggak ada kejadian menarik. Mungkin juga karena aku mempergunakan hari libur kemarin dengan kegiatan makan dan tidur saja. Bangun jam 11 siang, makan pagi sekaligus makan siang, lalu tidur siang, bangun jam 6 sore, mandi, makan, terus baca buku sampai ketiduran.<br />
Hasilnya, pagi tadi aku bangun dengan badan pegal semua, ditambah kepala pusing.<br />
Hari ini yang meneleponku adalah Ken, Jazz, dan Irvine. Topik pembicaraan kurang lebih sama dengan yang kemarin-kemarin.<span id="more-23"></span><br />
Kayak nggak punya teman lain saja.<br />
Habis selama ini temanku cuma Anya. Kalau kalian juga punya satu teman akrab saja, dan teman kalian itu pergi jauh atau meninggal, kalian akan merasakan seperti apa yang kurasakan sekarang.<br />
Aku kesepiaaan…</p>
<p><strong>17 Januari 2005, 24.05</strong><br />
Mungkin karena kemarin-kemarin kebanyakan tidur, malam ini aku sama sekali nggak bisa tidur. Jazz kirim sms kira-kira 1 jam lalu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-011705/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nina’s Diary 011505</title>
		<link>http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-011505/</link>
		<comments>http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-011505/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Jan 2005 13:17:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Effi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Effi's Fiction Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-011505/</guid>
		<description><![CDATA[15 Januari 2005, 21.20
Siang tadi Ken akhirnya menelepon. Kali ini ia tidak menyuruhku menemaninya lagi, tapi kami menghabiskan hampir satu jam istirahat untuk ngobrol di telepon. Kata Lana, Bu Tati (bosku) marah-marah tentang line telepon yang kukuasai. Tapi ternyata sampai jam pulang kantor ia tidak memanggilku sama sekali. Untunglah, besok aku harus lebih berhati-hati. Mungkin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>15 Januari 2005, 21.20</strong><br />
Siang tadi Ken akhirnya menelepon. Kali ini ia tidak menyuruhku menemaninya lagi, tapi kami menghabiskan hampir satu jam istirahat untuk ngobrol di telepon. Kata Lana, Bu Tati (bosku) marah-marah tentang line telepon yang kukuasai. Tapi ternyata sampai jam pulang kantor ia tidak memanggilku sama sekali. Untunglah, besok aku harus lebih berhati-hati. Mungkin Ken harus kusuruh meneleponku via HP. Memang mahal sih, tapi dia kan kaya. Lagian yang butuh meneleponku kan si Ken.<span id="more-22"></span><br />
Irvine juga meneleponku (baru saja, lewat HP – rasanya sih aku sudah memberitahunya nomor telepon rumahku supaya biaya lebih murah, tapi entah kenapa dia tidak pernah memakainya). Katanya, ia merasa buntu tentang kasus Anya. Polisi telah membuktikan bahwa obat itu memang mengandung racun. Tapi tetap saja tidak ada bukti jelas tentang siapa yang melakukannya. Hanya ada sidik jari Anya di botol obat itu. Bahkan polisi juga berhasil menemukan diary Anya, yang dari situ didapatkan fakta bahwa Anya menderita depresi berat menjelang hari-hari kematiannya. Bahkan Anya sempat menyebut-nyebut tentang keinginannya bunuh diri. Ken sudah diperiksa kemarin lusa dari pagi hingga sore, dan kata polisi, alibi Ken sangat kuat sehingga ia dibebaskan dari kecurigaan. Kesimpulan akhir adalah Anya bunuh diri dengan cara meracuni dirinya sendiri.<br />
Irvine berulang kali bilang bahwa ia tidak percaya sedikitpun bahwa Anya bunuh diri. Ia minta pendapatku, tapi terus terang aku tidak punya pendapat.<br />
“Apa benar Anya depresi menjelang hari-hari ia meninggal?” tanya Irvine, masih lewat HP.<br />
Aku cepat-cepat menyuruhnya menelepon rumahku saja.<br />
“Bukannya dari tadi.” ujar Irvine.<br />
Aku tertawa sambil minta maaf.<br />
“Nggak tahu, Ir,” kataku setelah kami berganti ke telepon rumah, “biasanya kalau ada apa-apa Anya pasti cerita ke aku. Jadi aku pasti tahu kalau Anya sedang ada masalah yang membuatnya depresi. Tapi belakangan ini…”<br />
“Ya?” Irvine menunggu.<br />
“… aku merasa Anya nggak kayak biasanya.”<br />
“Seperti apa misalnya?”<br />
“Seperti apa ya? Aku juga bingung. Sebetulnya Anya itu bukan orang pendiam. Ia tetap ngobrol santai denganku, hanya saja… memang sedikit aneh, sih. Sepertinya ada sesuatu yang dirahasiakannya dariku. Di hari terakhir itu… Anya banyak minum bir. Padahal aku tahu pasti bahwa Anya nggak suka minum bir.”<br />
“Ya, itu aneh kan?”<br />
“Aneh sekali. Aduh, kok waktu itu aku nggak menyadarinya ya… mungkin sebenarnya aku bisa mencegah Anya supaya tidak bunuh diri…”<br />
Irvine cepat-cepat memotong ucapanku. “Jangan begitu! Anya nggak bunuh diri kok.”<br />
Waktu aku tetap bersikeras menyalahkan diriku sendiri, Irvine kedengarannya jadi agak marah. Nadanya lumayan keras sehingga aku langsung diam.<br />
“Sori, Nin.” kata Irvine kemudian. Percakapan kami berhenti sampai situ.<br />
Aduh, rasanya akhir-akhir ini aku capeeek sekali. Aku ingin masalah Anya cepat berakhir. Ya, siapa tahu besok polisi berhasil mengungkap kasus ini, dan aku bisa kembali melanjutkan kehidupanku yang normal.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-011505/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nina’s Diary 011405</title>
		<link>http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-011405/</link>
		<comments>http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-011405/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Jan 2005 13:18:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Effi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Effi's Fiction Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-011405/</guid>
		<description><![CDATA[14 Januari 2005, 21.20
Ken tidak menelepon sejak kemarin. Irvine juga tidak. Malah, Jazz yang kayaknya mulai rutin mengirimiku sms. Aku selalu membalas sms dari siapapun juga, meskipun nggak penting. Dan sms dari Jazz ini benar-benar nggak penting. Ia hanya menanyakan bagaimana kabarku (baik-baik saja), atau mengajakku makan ke luar (aku terpaksa menolak terus karena pekerjaanku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>14 Januari 2005, 21.20</strong><br />
Ken tidak menelepon sejak kemarin. Irvine juga tidak. Malah, Jazz yang kayaknya mulai rutin mengirimiku sms. Aku selalu membalas sms dari siapapun juga, meskipun nggak penting. Dan sms dari Jazz ini benar-benar nggak penting. Ia hanya menanyakan bagaimana kabarku (baik-baik saja), atau mengajakku makan ke luar (aku terpaksa menolak terus karena pekerjaanku lagi sibuk-sibuknya, sebentar lagi laporan keuangan harus sudah siap), atau tetek bengek lainnya. <span id="more-21"></span>Menurutku, Jazz lumayan cakep sih… eh, bukan lumayan lagi, Jazz termasuk salah satu dari pria tampan yang pernah kutemui. Mungkin itu sebabnya mengapa aku nggak begitu kesal membalas sms-sms nggak pentingnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-011405/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nina’s Diary 011005</title>
		<link>http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-011005/</link>
		<comments>http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-011005/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Jan 2005 13:19:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Effi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Effi's Fiction Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-011005/</guid>
		<description><![CDATA[10 Januari 2005, di kantor, jam istirahat, 12.17
Aku ingin tahu sekali perkembangan kasus Anya. Tapi dari tadi kucoba menghubungi ortu Anya, tidak berhasil. HP mereka bahkan tidak dinyalakan. Aku coba hubungi Ken, berhasil nyambung tapi tidak diangkat sama sekali. HP Irvine malah out of area.
Ups, si Lana bilang ada telepon untukku.
10 Januari 2005, kantor, masih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>10 Januari 2005, di kantor, jam istirahat, 12.17</strong><br />
Aku ingin tahu sekali perkembangan kasus Anya. Tapi dari tadi kucoba menghubungi ortu Anya, tidak berhasil. HP mereka bahkan tidak dinyalakan. Aku coba hubungi Ken, berhasil nyambung tapi tidak diangkat sama sekali. HP Irvine malah out of area.<br />
Ups, si Lana bilang ada telepon untukku.</p>
<p><strong>10 Januari 2005, kantor, masih istirahat, 12.45</strong><span id="more-20"></span><br />
Ternyata dari Ken. Katanya ia ingin bicara denganku. Pulang kantor nanti Jazz akan menjemputku. Aduh, rasanya ingin cepat-cepat pulang. Aku betul-betul ingin tahu apa yang ingin dibicarakan Ken denganku. Pasti masalah Anya. Tapi apa yang harus kukatakan kalau Ken bertanya tentang pendapatku? Apa aku harus cerita tentang Irvine juga? Perasaanku mengatakan jangan.</p>
<p><strong>10 Januari 2005, 23.00</strong><br />
Rasanya belakangan ini aku sungguh-sungguh terbebani baik secara fisik maupun pikiran. Tidurku nggak senyenyak dulu lagi. Aduh Anya, kenapa kamu harus meninggal? Padahal aku masih sangat membutuhkan Anya.<br />
Temanku memang banyak. Terutama teman-teman kantor. Tapi nggak ada yang seperti Anya. Dengan Anya, aku bisa bicara bebas tanpa beban. Kadang aku merasa Anya diciptakan untuk menemaniku. Sekarang aku merasa satu bagian dari kehidupanku ada yang menghilang.<br />
Jazz tidak banyak berbicara padaku tadi, sewaktu menjemputku. Padahal jalanan macet sehingga kami punya waktu setengah jam lebih banyak dari biasanya. Setahuku asisten Ken ini memang pendiam. Tapi tersiksa juga kalau dua orang saling diam-diaman, padahal berada dalam satu mobil.<br />
Nggak heran kalau aku senang sekali waktu bertemu dengan Ken. Entah bagaimana prosesnya, aku merasa kalau aku dan Ken bisa nyambung kalau berbicara. Bahkan kalau kami sedang diam-diaman juga, aku nggak merasakan sesuatu yang canggung seperti kalau aku diam-diaman dengan Jazz tadi.<br />
Ken bercerita padaku detil kejadian kemarin pagi. Sebagian besar aku sudah tahu, dari Irvine. Aku tetap bungkam bahwa Irvine yang melaporkan kejadian itu ke polisi. Biar Irvine yang bicara pada Ken sendiri, kalau mau. Yang aku belum tahu, ternyata polisi memutuskan akan mengautopsi jenazah Anya.<br />
Berikut ini pertanyaan-pertanyaan Ken yang disharingkan ke aku. Ia tidak berharap aku menjawabnya, katanya, karena Ken percaya aku nggak tahu apa-apa tentang masalah ini. Aku jadi merasa agak bersalah. Oke, ini nih pertanyaannya:<br />
1.    Siapa yang melaporkan ke polisi bahwa Anya mati keracunan, atau, siapa yang telah berani-berani menyelidiki kematian Anya tanpa sepengetahuan suaminya sendiri? – Aku pura-pura ikut bingung untuk pertanyaan yang satu ini, sambil bertanya-tanya apakah Ken akan menghajar Irvine kalau tahu yang sebenarnya. Kemungkinan besar sih, iya.<br />
2.    Apa yang harus dilakukan Ken, mengijinkan atau tidak mengijinkan polisi mengautopsi jenazah Anya, karena sama seperti aku, Ken juga menduga ada benarnya pernyataan bahwa Anya diracun. Tapi ia juga tidak tega membayangkan jenazah Anya akan diotak-atik seperti itu. – Aku tidak berkomentar dengan bijaksana atas hal yang satu ini. Kalau kalian mendengar kalimat yang aku ucapkan pada Ken, sepertinya aku ini berpendapat di antara ‘mengijinkan dan tidak’. Aku sendiri bingung. Bagaimanapun, Anya sahabat terbaikku.<br />
3.    Apa yang harus dilakukan Ken, apabila ternyata penelitian membuktikan bahwa Anya memang mati keracunan. Ken berterus terang bahwa ia tidak suka jika Anya mati keracunan, karena dengan begitu hampir bisa dipastikan Anya mati dibunuh. Jika Anya mati dibunuh, Ken merasa dialah yang mula-mula akan dicurigai membunuh. – Sebenarnya, aku juga merasa begitu. Aku merasa agak kasihan pada Ken. Aku sama sekali nggak percaya Ken yang membunuh Anya.</p>
<p>Setelah puas mengungkapkan perasaannya yang jelas-jelas sedang kacau, Ken mengajakku makan malam. Atas usulku kami makan malam di sebuah kafe kecil di dekat apartemen yang suasananya sangat sepi. Tidak banyak pengunjungnya. Musik ballad mengalun sendu, cenderung sedih. Meskipun makanan di sini lumayan enak, aku agak menyesali pilihanku karena Ken jadi terlihat semakin murung. Jadi aku cepat-cepat menghabiskan makanku, lalu mendesak Ken agar cepat menghabiskan makanannya juga. Aku bilang ingin keluar dari tempat ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.45. Ken tidak mau langsung pulang. Katanya, ia tidak akan bisa tidur malam ini, jadi ia memintaku menemaninya sebentar. Aku menemaninya jalan-jalan di pinggir kolam renang apartemennya. Mungkin ada sekitar setengah jam aku menemani Ken dan keluh kesahnya. Kemudian Ken menelepon Jazz untuk mengantarku pulang. Ken bilang ia sangat berterima kasih padaku. Katanya, tindakanku itu sangat baik.<br />
Baru dalam perjalanan pulang Jazz mengajakku ngobrol. Aku menikmati obrolan itu meskipun tanpa topik yang jelas. Agak heran juga melihat perubahan Jazz yang sangat cepat. Tidak sekalipun Jazz menyinggung masalah tuannya. Ia malah asyik menanyakan tentang diriku, pekerjaanku, bahkan ia melontarkan joke-joke lucu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-011005/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nina’s Diary 010905</title>
		<link>http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-010905/</link>
		<comments>http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-010905/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Jan 2005 13:20:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Effi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Effi's Fiction Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-010905/</guid>
		<description><![CDATA[9 Januari 2005, 18.10
Aku sampai bingung harus mulai menulis dari mana. Luar biasa sekali kejadian hari ini, membuatku shock.
Tadi pagi, kira-kira jam 8.00, aku sedang bersiap-siap memulai acara penguburan ketika tiba-tiba dua orang polisi datang mencari orang tua Ken.
Aku belum tahu apa yang terjadi saat itu. Yang jelas, tiba-tiba mama Ken marah-marah dan wajah papa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>9 Januari 2005, 18.10</strong><br />
Aku sampai bingung harus mulai menulis dari mana. Luar biasa sekali kejadian hari ini, membuatku shock.<br />
Tadi pagi, kira-kira jam 8.00, aku sedang bersiap-siap memulai acara penguburan ketika tiba-tiba dua orang polisi datang mencari orang tua Ken.<br />
Aku belum tahu apa yang terjadi saat itu. Yang jelas, tiba-tiba mama Ken marah-marah dan wajah papa Ken memerah menahan marah. Jelas, mereka marah pada kedua polisi itu. Ken yang paling emosi. Dia membentak-bentak kedua polisi bahkan hampir menerjang mereka, kalau tidak ditahan oleh Jazz.<span id="more-19"></span><br />
Aku sudah hampir melibatkan diri dengan mereka saat tiba-tiba tanganku ditarik oleh seseorang. Ternyata Irvine. Entah sejak kapan dia datang. Kuat cengkraman tangannya pada lenganku. Akhirnya ia berhasil membawaku ke ruangan lain, kira-kira berjarak 15 meter, sebelum kemudian menjelaskan sikapnya padaku.<br />
“Sori, Nin. Sori tapi aku harus melakukan ini.” Katanya padaku sambil melepas memegang lengan tanganku.<br />
Aku memikirkan kata-katanya agak lama. Kemudian aku sadar, ternyata dia yang memanggil para polisi itu ke sini. “Kenapa?” tanyaku setengah berbisik.<br />
“Kamu tau nggak kenapa Anya meninggal?”<br />
“Jelas! Anya kan kebanyakan minum bir!” aku hampir berteriak.<br />
“Sst! Jangan keras-keras!”<br />
Aku menunggu Irvine bicara lagi, tapi ternyata ia hanya memandangiku. Dahinya sedikit berkerut. Ia kelihatan serius sekali.<br />
“Nggak. Itu salah. Anya mati diracun.”<br />
“Di… diracun?”<br />
Irvine mengangguk mantap. “Kamu tahu, di hari Anya meninggal, aku ada di sana. Aku tahu pasti tanda-tanda orang keracunan karena aku pernah mempelajarinya. Tanda-tanda itu jelas terlihat pada Anya, tapi aku nggak tahu kenapa. Banyak pertanyaan yang aku belum tahu jawabannya pada saat itu. Ditambah lagi, semua orang sepakat Anya mati kebanyakan minum bir. Jadi beberapa hari ini aku mencari bukti-buktinya.”<br />
Aku sekarang tahu, itulah sebabnya mengapa Irvine bersikap menjengkelkan belakangan ini.<br />
“Aku menemukan obat batuk milik Anya, obat dari dokter pribadinya, di dalamnya ada racun XXX.”<br />
Sungguh, saat itu perasaanku seperti campur aduk. Di satu sisi aku tidak percaya bahwa Anya mati keracunan, di sisi lain aku seolah dipaksa untuk percaya pada pria yang berada di hadapanku saat ini.<br />
“Ja… di?”<br />
Irvine mengangguk. “Aku curiga seseorang sengaja menaruh racun di sana.”<br />
Aku benar-benar tak bisa berkata apa-apa saat itu. Berbagai pikiran masuk ke kepalaku. Jika seseorang sengaja menaruh racun di sana, padahal ia tahu bahwa itu obat milik Anya, berarti ia bermaksud membunuh sahabatku itu.<br />
Membunuh. Kedengarannya sungguh mengerikan.<br />
Seumur hidup tidak pernah sekalipun aku membayangkan akan berurusan dengan pembunuhan. Memang aku pernah membayangkan tentang pembunuhan. Tapi tanpa aku terlibat di dalamnya, tentu saja.<br />
Aku seperti masuk ke dunia dalam novel-novel kriminal yang biasa kubaca. Apa yang harus kuperbuat sekarang?</p>
<p><strong>9 Januari 2005, 23.10</strong><br />
Barusan Irvine kirim sms. Ia minta maaf sudah melibatkanku dalam masalah ini. Aku membalas bahwa sudah seharusnya aku terlibat. Anya itu kan sahabatku? Irvine bilang, ia tidak tahu mengapa dirinya tertarik membantu membongkar misteri kematian Anya. Aku bilang, itu bagus apalagi dialah yang mula-mula berhasil menemukan racun dalam obat Anya, bukannya polisi atau detektif. Lalu Irvine menyudahi sms dengan ucapan selamat tidur.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-010905/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nina’s Diary 010805</title>
		<link>http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-010805/</link>
		<comments>http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-010805/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Jan 2005 13:21:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Effi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Effi's Fiction Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-010805/</guid>
		<description><![CDATA[8 Januari 2005, masih juga di rumah duka, 23.30
Ini hari terakhir. Besok Anya dimakamkan. Itu berarti aku sudah boleh istirahat. Hari ini Ken lebih pendiam dari biasanya. Ia lebih banyak mengekor apa yang kukerjakan. Aku menyuguhkan teh hangat untuk para tamu, ia ikut membawakan. Aku membawa piring-piring berisi kue-kue, ia juga membantu. Yang mengagetkan, waktu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>8 Januari 2005, masih juga di rumah duka, 23.30</strong><br />
Ini hari terakhir. Besok Anya dimakamkan. Itu berarti aku sudah boleh istirahat. Hari ini Ken lebih pendiam dari biasanya. Ia lebih banyak mengekor apa yang kukerjakan. Aku menyuguhkan teh hangat untuk para tamu, ia ikut membawakan. Aku membawa piring-piring berisi kue-kue, ia juga membantu. Yang mengagetkan, waktu aku menyapu lantai, Ken ikut menyapu juga.<br />
Kasihan, ia pasti stress sekali.<span id="more-18"></span><br />
Irvine datang lagi. Kali ini ia cuma tersenyum sopan padaku dan langsung menghampiri orang tua Ken.<br />
Rasanya nggak salah kalau aku begitu ingin mendengarkan pembicaraan mereka. Soalnya terus terang aku agak curiga dengan Irvine. Mengherankan juga, karena aku curiga Irvine naksir Anya. Masalahnya, kalau Irvine naksir Anya, ngapain dia tanya-tanya masalah kehidupan Anya setelah orangnya meninggal?<br />
Ini nih penggalan-penggalan kalimat yang berhasil kucuri dengar:<br />
“Nggak. Mana mungkin Anya punya masalah dengan Ken? Mereka itu,” ujar mama Anya sambil menggerak-gerakkan tangannya, “jelas-jelas rukun dan nggak ada masalah apa-apa.”<br />
Aku agak tidak percaya. Kelihatannya, Anya dan Ken tidak serukun itu. Sementara Irvine mendengarkan dengan penuh perhatian, papa Anya terlihat hanya mengangguk-angguk sambil menahan kantuk.<br />
“Saya tahu jelas karena tiap tiga hari sekali kami saling menelepon dengan anak kami. Dari itu kami bisa menyimpulkan bahwa kehidupan rumah tangga mereka baik dan rukun. Kata siapa mereka ada masalah? Waktu party itu juga, saya menelepon Ken dan Anya. Mereka jelas-jelas sedang gembira.”<br />
Sayang aku tidak bisa mendengar kalimat Irvine karena suaranya tenggelam oleh suara ribut sekelompok pemuda yang kelihatannya adalah pegawai-pegawai perusahaan tempat Ken memimpin. Mereka ribut sekali. Kelihatannya baru saja ada kejadian luar biasa di antara mereka sendiri.<br />
Biarlah, aku nggak mau tahu. Masih banyak yang harus kukerjakan berkenaan dengan acara pemakaman besok pagi. Ken sama sekali tidak berminat membaur dengan orang tuanya maupun tamu-tamunya. Jadi aku harus berperan ganda menjaganya juga karena ia kelihatan sedikit depresi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-010805/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nina’s Diary 010705</title>
		<link>http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-010705/</link>
		<comments>http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-010705/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Jan 2005 13:21:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Effi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Effi's Fiction Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-010705/</guid>
		<description><![CDATA[7 Januari 2005, di rumah duka, 20.10
Sebetulnya ini aneh. Aku, sahabat terdekat Anya, hanya menangis satu kali sejak Anya meninggal. Aku sedih, pasti. Tapi sedih nggak berarti harus nangis kan?
Aku sebal sekali waktu Rin, Sophie, dan dayang-dayangnya ketahuan menggosipkan aku satu jam yang lalu.
“Kasihan Anya,” gosip mereka, “sahabatnya nggak kelihatan sedih sama sekali.”
“Iya, si Nina [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>7 Januari 2005, di rumah duka, 20.10</strong><br />
Sebetulnya ini aneh. Aku, sahabat terdekat Anya, hanya menangis satu kali sejak Anya meninggal. Aku sedih, pasti. Tapi sedih nggak berarti harus nangis kan?<br />
Aku sebal sekali waktu Rin, Sophie, dan dayang-dayangnya ketahuan menggosipkan aku satu jam yang lalu.<br />
“Kasihan Anya,” gosip mereka, “sahabatnya nggak kelihatan sedih sama sekali.”<br />
“Iya, si Nina itu, malah asyik menarik perhatian cowok-cowok teman Ken.” Seseorang menimpali.<br />
“Yah… kapan lagi kesempatan nggaet mereka kalau bukan sekarang? Aku ini sahabat baik Anya, dia bisa bilang begitu. Dan… bla… bla… bla…”<span id="more-17"></span><br />
Masih panjang bahan gosip mereka, tapi aku malas menulis semua itu di sini. Yang keterlaluan, aku berada nggak jauh dari mereka saat itu. Boleh dong kalau setelah itu aku langsung mengusir mereka dengan tidak hormat. Yah, Ken menegurku karena katanya aku kasar. Tapi menurutku kalau Ken yang digitukan pasti akibatnya jauh lebih gawat bagi Rin, Sophie, dan dayang-dayangnya itu (aku nggak tahu nama-nama ketiga cewek yang lain, tapi dari sikap mereka yang suka nempel dan meniru, kayaknya mereka ini cocok jadi dayang… he he…)<br />
Eh, cowok bestman itu datang.</p>
<p><strong>7 Januari 2005, masih di rumah duka, 22.00</strong><br />
Huh, capek sekali malam ini. Untung besok kantor libur. Si cowok bestman itu, ternyata bernama Irvine. Bukan Irwan atau Arvin. Untung aku nggak salah menyebut namanya tadi. Dia itu ternyata nggak pendiam sama sekali. Aku sampai kewalahan meladeni dia ngobrol. Tapi Irvine lebih banyak bertanya tentang Anya. Aku sampai heran, jangan-jangan dia naksir Anya?<br />
Begini nih obrolan kami:<br />
I    : Kenal Anya dari mana?<br />
N    : Kami teman dari TK.<br />
I    : Kalian dekat sejak kapan?<br />
N    : Sejak TK.<br />
I    : Maksudku, dekat sebagai sahabat…<br />
N    : Ya sejak TK itu.<br />
I    : Lalu kalian terus bersahabat sampai sekarang?<br />
N    : Ya iya lah. Aku nggak punya sahabat lain selain Anya. Kalau teman sih banyak. Tapi teman kan lain. Mereka lebih nggak bisa diandalkan.<br />
I    : Jadi menurutmu Anya bisa diandalkan?<br />
N    : Sangat bisa. Aku ingat dulu ayahku pernah hampir dipenjara karena korupsi. Anya itu kaya. Uangnya bisa menyelamatkan ayahku. Pernah juga aku sakit parah sampai hampir mati, Anya yang merawatku habis-habisan.</p>
<p>Sebetulnya aku malu ayahku yang korupsi ketahuan oleh cowok seperti Irvine, tapi bagaimana lagi, udah keceplosan. Biarlah, toh ia bukan siapa-siapaku.<br />
I    : O ya? Baik sekali Anya itu.<br />
N    : He-eh.<br />
I    : Bagaimana hubungan Anya dengan suaminya?<br />
N    : Apa? Eh…</p>
<p>Rasanya pertanyaan ini sudah agak keterlaluan. Maksudku, Irvine ini benar-benar bukan siapa-siapa. Yakin deh, dia pasti naksir Anya. Jadi aku mulai bersikap ketus.</p>
<p>N    : Aku nggak gitu tau. Itu kan urusan intern mereka. Meskipun aku tau, aku nggak bakal ngomong-ngomong ke orang lain.<br />
I    : Menurutku, mereka nggak begitu akur. Betul nggak?</p>
<p>Aduh, cowok ini! Aku betul-betul nggak tau harus ngomong apa. Akhirnya, menahan jengkel, aku tinggalkan dia dengan alasan harus meladeni tamu-tamu lainnya. Irvine cuma nyengir. Satu menit berikutnya ia sudah kedapatan ngobrol akrab dengan Jazz, yang kukenal sebagai asisten Ken. Nah lo, kira-kira aku sudah tau topik pembicaraan mereka. Apalagi sesekali saat kuintip, wajah Jazz seringkali jadi memerah. Mungkin dia juga menahan marah, sama sepertiku.<br />
Aku masih dikuasai rasa jengkel saat menulis diary ini. Kok bisa sih, cowok bersikap seperti itu? Maksudku, pada mulanya aku simpatik pada penampilannya. Cukup oke. Terutama matanya. Juga senyumnya. Juga postur tubuhnya. Juga caranya berpakaian.<br />
Tapi… stop! Aku nggak naksir dia sama sekali, apalagi setelah kejadian barusan.<br />
Cukup deh tentang Irvine. Aku yakin nggak akan berhubungan dengan dia lagi.<br />
Ken marah-marah terus hari ini. Mungkin karena stress. Nggak heran, banyak pelayat yang datang, kebanyakan sih teman-teman Anya, yang berkasak-kusuk tentang kematian Anya yang terlalu mendadak. Malah banyak juga yang menaruh curiga terhadap sebab utama Anya meninggal.<br />
Hari yang buruk. Pertama, aku nggak punya sahabat lagi. Kedua, muncul cowok aneh yang terlalu ingin tau. Ketiga, Ken yang marah-marah terus dan berimbas kepadaku. Padahal aku ini bisa dikatakan sebagai yang paling membantu acara melayat ini. Orang tua Ken kaya, memang. Tapi mereka bisa dikatakan nggak membantu sama sekali. Lebih mirip bos yang perintah sana, perintah sini. Aku tahu betul, sedikitpun mereka nggak pernah membantu membawakan piring berisi kue-kue atau aqua gelas kepada para tamu. Sementara aku sudah mirip sekali dengan pembantu.<br />
Kalau dulu masih ada Anya, aku bisa dengan lancarnya curhat ke dia. Meskipun tentang mertuanya sendiri, aku yakin Anya mau mendengarkan dengan sabar… eh, meskipun aku belum pernah curhat tentang ini. Soalnya aku tahu bagaimana mertua Anya itu sebenarnya, baru hari ini. Mungkin sebenarnya Anya juga tersiksa. Siapa tahu.<br />
Aduh, sedih rasanya kalau ingat Anya. Aku nggak habis pikir kok cepat banget dia meninggalkanku.<br />
Ngantuk. Tapi belum boleh pulang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-010705/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nina’s Diary 010605</title>
		<link>http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-010605/</link>
		<comments>http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-010605/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Jan 2005 13:23:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Effi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Effi's Fiction Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-010605/</guid>
		<description><![CDATA[6 Januari 2005, 23.50
Rasanya nggak percaya. Kemarin sore Anya meninggal dunia. Rasanya masih jelas terngiang di kepalaku telepon dari Anya dua hari lalu, yang memintaku mengantarnya ke rumah sakit. Belum sempat menjawab, telepon terputus. Waktu kutelepon balik, pembantu rumah tangga Anya bilang bahwa Anya tiba-tiba pingsan. Aku langsung menghubungi HP Ken dan bilang bahwa aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>6 Januari 2005, 23.50</strong><br />
Rasanya nggak percaya. Kemarin sore Anya meninggal dunia. Rasanya masih jelas terngiang di kepalaku telepon dari Anya dua hari lalu, yang memintaku mengantarnya ke rumah sakit. Belum sempat menjawab, telepon terputus. Waktu kutelepon balik, pembantu rumah tangga Anya bilang bahwa Anya tiba-tiba pingsan. Aku langsung menghubungi HP Ken dan bilang bahwa aku akan mengantarnya ke rumah sakit, karena bagaimanapun juga jarak rumah kami lebih dekat dibanding kantor Ken.<span id="more-16"></span><br />
Anya sama sekali tidak pernah siuman sejak itu. Ia meninggal begitu saja. Rasanya aku masih nggak percaya.<br />
Kok bisa?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-010605/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nina’s Diary 010405</title>
		<link>http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-010405/</link>
		<comments>http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-010405/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Jan 2005 13:23:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Effi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Effi's Fiction Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-010405/</guid>
		<description><![CDATA[4 Januari 2005, dalam perjalanan pulang dari kantor, 17.10
Astaga. Anya pingsan! Mungkin karena bir kemarin. Setelah ini aku langsung ke rumah sakit.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>4 Januari 2005, dalam perjalanan pulang dari kantor, 17.10</strong><br />
Astaga. Anya pingsan! Mungkin karena bir kemarin. Setelah ini aku langsung ke rumah sakit.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-010405/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nina’s Diary 010305</title>
		<link>http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-010305/</link>
		<comments>http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-010305/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Jan 2005 13:24:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Effi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Effi's Fiction Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-010305/</guid>
		<description><![CDATA[3 Januari 2005, 21.00
Hari pertama masuk kerja di tahun baru.
Nggak ada yang istimewa hari ini. Seabrek pekerjaan dengan semangat kukerjakan. Mungkin udah kelamaan libur, jadi hari ini tadi aku semangat sekali. Belum selesai semua sih, tapi itu bagus, karena menjamin besok aku nggak akan nganggur. Bayangkan. Kalau nganggur, waktu bisa seakan berhenti!
Hari ini acara New [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>3 Januari 2005, 21.00</strong><br />
Hari pertama masuk kerja di tahun baru.<br />
Nggak ada yang istimewa hari ini. Seabrek pekerjaan dengan semangat kukerjakan. Mungkin udah kelamaan libur, jadi hari ini tadi aku semangat sekali. Belum selesai semua sih, tapi itu bagus, karena menjamin besok aku nggak akan nganggur. Bayangkan. Kalau nganggur, waktu bisa seakan berhenti!<br />
Hari ini acara New Year Party di apartemen Anya. Aku naik taksi. Aduh, aku nggak menyangka biaya taksi bisa semahal itu. Masa hampir sama dengan gajiku per hari.<span id="more-14"></span><br />
Aku bertemu lagi dengan Irwan (atau siapapun namanya). Dia cuma tersenyum waktu melihatku. Eh, ga tau ya. Mungkin maksudnya tersenyum pada orang di belakangku. Habis waktu weddingnya Anya, Irwan sedikitpun nggak ngajak aku ngomong. Bahkan mungkin dia nggak sadar kalau aku ini pendamping mempelai wanitanya. Jadi aku pasang muka antara tersenyum dan tidak. Bisa disebut tersenyum, bisa juga tidak.<br />
Suami Anya menawariku bir. Aku udah pernah punya pengalaman dengan bir, jadi kutolak saja. Sebaliknya Anya dengan santainya menghabiskan bergelas-gelas bir, sampai agak mabuk. Acara party jadi nggak begitu mengasyikkan karena Anya teler. Yang menjengkelkan lagi tidak ada yang kukenal di sana selain mereka bertiga.<br />
Mungkin orang memang berubah setelah menikah ya…<br />
Lagian ngapain sih Anya pake mabuk segala?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.effiharyanti.com/nina%e2%80%99s-diary-010305/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
