6 Januari 2005, 23.50
Rasanya nggak percaya. Kemarin sore Anya meninggal dunia. Rasanya masih jelas terngiang di kepalaku telepon dari Anya dua hari lalu, yang memintaku mengantarnya ke rumah sakit. Belum sempat menjawab, telepon terputus. Waktu kutelepon balik, pembantu rumah tangga Anya bilang bahwa Anya tiba-tiba pingsan. Aku langsung menghubungi HP Ken dan bilang bahwa aku akan mengantarnya ke rumah sakit, karena bagaimanapun juga jarak rumah kami lebih dekat dibanding kantor Ken.
4 Januari 2005, dalam perjalanan pulang dari kantor, 17.10
Astaga. Anya pingsan! Mungkin karena bir kemarin. Setelah ini aku langsung ke rumah sakit.
3 Januari 2005, 21.00
Hari pertama masuk kerja di tahun baru.
Nggak ada yang istimewa hari ini. Seabrek pekerjaan dengan semangat kukerjakan. Mungkin udah kelamaan libur, jadi hari ini tadi aku semangat sekali. Belum selesai semua sih, tapi itu bagus, karena menjamin besok aku nggak akan nganggur. Bayangkan. Kalau nganggur, waktu bisa seakan berhenti!
Hari ini acara New Year Party di apartemen Anya. Aku naik taksi. Aduh, aku nggak menyangka biaya taksi bisa semahal itu. Masa hampir sama dengan gajiku per hari.
Nina’s Diary
Happy New Year, Nina! Thank you for being my best friend.
Love, hug and pray,
The cutest woman in the world,
Anya
Nina’s Diary – Intro, 2 Januari 2005, 21.00
Ini pertama kalinya aku menulis diary.
Wayne, seorang ABG yang masih duduk di bangku SMP, adalah anak yang istimewa. Ayahnya termasuk dalam sepuluh besar konglomerat di negara ini, sedangkan ibunya seorang desainer terkenal. Wayne sendiri tidak mempunyai saudara kandung, alias anak tunggal. Sejak kecil ia terbiasa dimanja. Apapun keinginannya pasti dituruti. Tapi sejak tiga tahun yang lalu terjadi perubahan besar dalam kehidupan keluarga itu. Karena jarang bertemu, ayahnya sibuk dengan perusahaan barunya di Taiwan, sedangkan ibunya sibuk mengurusi butik-butiknya yang tersebar di Amerika. Yang lebih parah, beberapa kali Wayne memergoki kedua orang tuanya, kalau kebetulan dua-duanya sedang berada di rumah, menyinggung-nyinggung tentang perceraian.
Disadari atau tidak, itu membawa dampak besar terhadap diri ABG berambut ikal itu.
Kalau ada lomba cewek paling menyebalkan, pasti Vanialah yang jadi pemenang. Anak yang satu itu, selain judesnya minta ampun, juga suka membuat anak lain jengkel. Meski cantik, berani taruhan deh, nggak ada yang naksir doi.
Kalimat terakhir itu terutama sekali dibenarkan oleh Andi yang (ternyata) pernah naksir Vania, dan langsung ditolak mentah-mentah dengan sikap judes dan angkuh. Patah hati berat si Andi. Padahal cowok itu sudah memenuhi kriteria cowok idaman: keren, ganteng, cakep, pintar, kaya, atletis, baik, penuh perhatian, pintar nyanyi, jago gitar. Minusnya… belum ketahuan, sih.
Chris melewati meja tempatku makan tanpa menoleh sedikitpun. Tentu saja, ia kan tidak kenal aku. Ia cowok paling hebat di sekolah ini (setidaknya bagiku). Anggota tim basket inti, ketua klub yudo, keren, pintar, ramah dan… pokoknya aku suka padanya. Hanya dengan melihatnya saja sudah senang setengah mati. Ia tidak sekelas denganku (lagipula mana mungkin? Aku satu tingkat di bawahnya). Begitulah, bagiku ia sangatlah hebat.
Masalahnya bukan hubungan antara aku dan Chris, tapi lebih pada diriku sendiri. Namaku sih cukup keren, Francie. Tapi sebenarnya aku hanya gadis yang terlalu biasa-biasa saja. Rambutku panjang sebahu dan lebih sering kuekor kuda. Badanku kurus, suaraku tidak bagus, dan aku tidak suka berolah raga.