Setelah melalui banyak pertimbangan, akhirnya aku beli Nokia 5800. Sekarang masih belum terbiasa dengan virtual keyboardnya, jadi postingan kali ini singkat saja. Aku pakai koneksi internet prabayar XL, browser opera mini, dan plugin WPhone untuk WordPress.

Panasonic Lumix DMC-TZ3
Bulan ini banyak pengeluaran nih. Selain beli perlengkapan bayi, juga harus beli kamera baru, karena yang Nikon E3100 sudah nggak kuat kalau dipakai agak lama. Jadi pilihan jatuh pada Panasonic Lumix DMC-TZ3. Selain harga murah, pemakaian simple dan modelnya cukup compact. Waktu beli pas ada promo gratis tripod dan memory 2GB. Sebetulnya aku nggak ngerti banyak tentang kamera, sih. Jadi sebelum beli, aku browsing dan nemu The Food Pornographer. Aku suka foto-foto yang dipasang diblognya, dan ternyata dia cukup pakai TZ3 ini untuk menghasilkan foto yang bagus dan natural. Yang pasti perlu banyak latihan untuk dapat memaksimalkan fitur-fitur yang ada.
Akhirnya setelah bertahan hampir 3 tahun pakai Nokia 2280 (CDMA) sampai tombolnya udah ga enak dipencet lagi, akhirnya saya beli Nokia 2228 sebagai replacement. Modelnya bagus, kecil dan tipis. Bisa transfer phone book lewat kabel data. Tombolnya juga enak meskipun agak kekecilan. Kekurangannya responnya agak lambat, terutama kalo dipake sms. Harga Rp 1.350.000.
Habis beli Nokia 3120 Classic warna Mocca. Selama ini hp Teddy yang lama, Samsung X120, susah sekali dihubungi. Jadi dengan hp baru ini semoga komunikasi lancar. Katanya sih, ini hp 3G merk Nokia termurah.
Akhirnya setelah hampir 8 tahun bertahan dengan TV Philips 14″, kemarin Ted membeli TV LCD Samsung LA32A450C1. Untuk sementara ukuran TV baru ini masih kebesaran untuk ukuran kamar tidur yang saat ini ditempati, tapi ga apa, karena menurut rencana, kamar tidur masa depan kami berukuran minimal 6×4 meter
Sekarang juga bisa nonton Friends dengan ukuran yang seharusnya.
Hmm, pe-er film yang belum ditonton masih banyak nih.

Ini “PDA” pertama saya, dibeli tahun 2003-an dengan harga 1,5 jutaan (tanggalnya lupa, coba saya cari nota pembeliannya dulu barangkali masih ada). Sampai sekarang “PDA” ini belum ada penggantinya. Maksudnya, saya belum beli PDA yang baru karena memang belum merasa butuh. Cassiopeia ini masih bisa dipakai dengan bantuan charger meskipun baterainya sudah soak. Kalau ada yang jual baterainya saya pasti mau beli. Mungkin ada yang tahu di mana beli baterainya?
Selama ini fungsi utama Cassiopeia ini menemani saya membaca e-book, terutama Holy Bible dan cerita silat karya Kho Ping Hoo.
Untuk mengenang produk ini karena sudah tidak diproduksi lagi, di bawah ini saya copy-paste detail produk dari Amazon.com:
Rasanya handphone Motorola C650-ku udah waktunya pensiun. Alasannya:
- Susah dicharge. Waktu ngecharge kabel charger harus diikat ke handphonenya pake karet gelang. Sangat tidak keren.
- Kadang tombol “NO” untuk mengakhiri percakapan tidak berfungsi. Tidak OK.
- Susah ganti sim card karena casing susah dibuka. Ini sih masalah sejak pertama kali beli.
- Fisik tergolong tebal. Punya adikku yang masih kuliah aja masih jauh lebih keren (dan tipis).
- Butuh 3G.
Pengen beli handphone 3G baru yang harganya di bawah 2 juta. Kemungkinan merek Samsung.