17 Januari 2005, 21.00
Kemarin nggak ada kejadian menarik. Mungkin juga karena aku mempergunakan hari libur kemarin dengan kegiatan makan dan tidur saja. Bangun jam 11 siang, makan pagi sekaligus makan siang, lalu tidur siang, bangun jam 6 sore, mandi, makan, terus baca buku sampai ketiduran.
Hasilnya, pagi tadi aku bangun dengan badan pegal semua, ditambah kepala pusing.
Hari ini yang meneleponku adalah Ken, Jazz, dan Irvine. Topik pembicaraan kurang lebih sama dengan yang kemarin-kemarin.
15 Januari 2005, 21.20
Siang tadi Ken akhirnya menelepon. Kali ini ia tidak menyuruhku menemaninya lagi, tapi kami menghabiskan hampir satu jam istirahat untuk ngobrol di telepon. Kata Lana, Bu Tati (bosku) marah-marah tentang line telepon yang kukuasai. Tapi ternyata sampai jam pulang kantor ia tidak memanggilku sama sekali. Untunglah, besok aku harus lebih berhati-hati. Mungkin Ken harus kusuruh meneleponku via HP. Memang mahal sih, tapi dia kan kaya. Lagian yang butuh meneleponku kan si Ken.
14 Januari 2005, 21.20
Ken tidak menelepon sejak kemarin. Irvine juga tidak. Malah, Jazz yang kayaknya mulai rutin mengirimiku sms. Aku selalu membalas sms dari siapapun juga, meskipun nggak penting. Dan sms dari Jazz ini benar-benar nggak penting. Ia hanya menanyakan bagaimana kabarku (baik-baik saja), atau mengajakku makan ke luar (aku terpaksa menolak terus karena pekerjaanku lagi sibuk-sibuknya, sebentar lagi laporan keuangan harus sudah siap), atau tetek bengek lainnya.
10 Januari 2005, di kantor, jam istirahat, 12.17
Aku ingin tahu sekali perkembangan kasus Anya. Tapi dari tadi kucoba menghubungi ortu Anya, tidak berhasil. HP mereka bahkan tidak dinyalakan. Aku coba hubungi Ken, berhasil nyambung tapi tidak diangkat sama sekali. HP Irvine malah out of area.
Ups, si Lana bilang ada telepon untukku.
10 Januari 2005, kantor, masih istirahat, 12.45
9 Januari 2005, 18.10
Aku sampai bingung harus mulai menulis dari mana. Luar biasa sekali kejadian hari ini, membuatku shock.
Tadi pagi, kira-kira jam 8.00, aku sedang bersiap-siap memulai acara penguburan ketika tiba-tiba dua orang polisi datang mencari orang tua Ken.
Aku belum tahu apa yang terjadi saat itu. Yang jelas, tiba-tiba mama Ken marah-marah dan wajah papa Ken memerah menahan marah. Jelas, mereka marah pada kedua polisi itu. Ken yang paling emosi. Dia membentak-bentak kedua polisi bahkan hampir menerjang mereka, kalau tidak ditahan oleh Jazz.
8 Januari 2005, masih juga di rumah duka, 23.30
Ini hari terakhir. Besok Anya dimakamkan. Itu berarti aku sudah boleh istirahat. Hari ini Ken lebih pendiam dari biasanya. Ia lebih banyak mengekor apa yang kukerjakan. Aku menyuguhkan teh hangat untuk para tamu, ia ikut membawakan. Aku membawa piring-piring berisi kue-kue, ia juga membantu. Yang mengagetkan, waktu aku menyapu lantai, Ken ikut menyapu juga.
Kasihan, ia pasti stress sekali.
7 Januari 2005, di rumah duka, 20.10
Sebetulnya ini aneh. Aku, sahabat terdekat Anya, hanya menangis satu kali sejak Anya meninggal. Aku sedih, pasti. Tapi sedih nggak berarti harus nangis kan?
Aku sebal sekali waktu Rin, Sophie, dan dayang-dayangnya ketahuan menggosipkan aku satu jam yang lalu.
“Kasihan Anya,” gosip mereka, “sahabatnya nggak kelihatan sedih sama sekali.”
“Iya, si Nina itu, malah asyik menarik perhatian cowok-cowok teman Ken.” Seseorang menimpali.
“Yah… kapan lagi kesempatan nggaet mereka kalau bukan sekarang? Aku ini sahabat baik Anya, dia bisa bilang begitu. Dan… bla… bla… bla…”