14 Januari 2005, 21.20
Ken tidak menelepon sejak kemarin. Irvine juga tidak. Malah, Jazz yang kayaknya mulai rutin mengirimiku sms. Aku selalu membalas sms dari siapapun juga, meskipun nggak penting. Dan sms dari Jazz ini benar-benar nggak penting. Ia hanya menanyakan bagaimana kabarku (baik-baik saja), atau mengajakku makan ke luar (aku terpaksa menolak terus karena pekerjaanku lagi sibuk-sibuknya, sebentar lagi laporan keuangan harus sudah siap), atau tetek bengek lainnya. (more…)
Nina’s Diary 011405
Nina’s Diary 011005
10 Januari 2005, di kantor, jam istirahat, 12.17
Aku ingin tahu sekali perkembangan kasus Anya. Tapi dari tadi kucoba menghubungi ortu Anya, tidak berhasil. HP mereka bahkan tidak dinyalakan. Aku coba hubungi Ken, berhasil nyambung tapi tidak diangkat sama sekali. HP Irvine malah out of area.
Ups, si Lana bilang ada telepon untukku.
10 Januari 2005, kantor, masih istirahat, 12.45 (more…)
Nina’s Diary 010905
9 Januari 2005, 18.10
Aku sampai bingung harus mulai menulis dari mana. Luar biasa sekali kejadian hari ini, membuatku shock.
Tadi pagi, kira-kira jam 8.00, aku sedang bersiap-siap memulai acara penguburan ketika tiba-tiba dua orang polisi datang mencari orang tua Ken.
Aku belum tahu apa yang terjadi saat itu. Yang jelas, tiba-tiba mama Ken marah-marah dan wajah papa Ken memerah menahan marah. Jelas, mereka marah pada kedua polisi itu. Ken yang paling emosi. Dia membentak-bentak kedua polisi bahkan hampir menerjang mereka, kalau tidak ditahan oleh Jazz. (more…)
Nina’s Diary 010805
8 Januari 2005, masih juga di rumah duka, 23.30
Ini hari terakhir. Besok Anya dimakamkan. Itu berarti aku sudah boleh istirahat. Hari ini Ken lebih pendiam dari biasanya. Ia lebih banyak mengekor apa yang kukerjakan. Aku menyuguhkan teh hangat untuk para tamu, ia ikut membawakan. Aku membawa piring-piring berisi kue-kue, ia juga membantu. Yang mengagetkan, waktu aku menyapu lantai, Ken ikut menyapu juga.
Kasihan, ia pasti stress sekali. (more…)
Nina’s Diary 010705
7 Januari 2005, di rumah duka, 20.10
Sebetulnya ini aneh. Aku, sahabat terdekat Anya, hanya menangis satu kali sejak Anya meninggal. Aku sedih, pasti. Tapi sedih nggak berarti harus nangis kan?
Aku sebal sekali waktu Rin, Sophie, dan dayang-dayangnya ketahuan menggosipkan aku satu jam yang lalu.
“Kasihan Anya,” gosip mereka, “sahabatnya nggak kelihatan sedih sama sekali.”
“Iya, si Nina itu, malah asyik menarik perhatian cowok-cowok teman Ken.” Seseorang menimpali.
“Yah… kapan lagi kesempatan nggaet mereka kalau bukan sekarang? Aku ini sahabat baik Anya, dia bisa bilang begitu. Dan… bla… bla… bla…” (more…)
Nina’s Diary 010605
6 Januari 2005, 23.50
Rasanya nggak percaya. Kemarin sore Anya meninggal dunia. Rasanya masih jelas terngiang di kepalaku telepon dari Anya dua hari lalu, yang memintaku mengantarnya ke rumah sakit. Belum sempat menjawab, telepon terputus. Waktu kutelepon balik, pembantu rumah tangga Anya bilang bahwa Anya tiba-tiba pingsan. Aku langsung menghubungi HP Ken dan bilang bahwa aku akan mengantarnya ke rumah sakit, karena bagaimanapun juga jarak rumah kami lebih dekat dibanding kantor Ken. (more…)
Nina’s Diary 010405
4 Januari 2005, dalam perjalanan pulang dari kantor, 17.10
Astaga. Anya pingsan! Mungkin karena bir kemarin. Setelah ini aku langsung ke rumah sakit.
