Cerita ini saya tulis 10 September 1998, merupakan salah satu cerita pendek pertama, dan meskipun sederhana, adalah favorit saya.
Hai, friends! Kenalkan, namaku David Grounds. Tapi aku lebih dikenal dengan nama Lou saja. Jika kau bertanya siapa namaku yang selengkap-lengkapnya pun tetap akan kujawab satu kata itu, Lou. Bahkan sebagian temanku malah nggak kenal siapa itu David Grounds meskipun aku berada di depan hidung mereka. Tapi jika kau bertanya tentang Lou, nah, itu sih lain lagi.
Aku punya dua kakak, satu kakak kandung, namanya Allen. Satunya lagi adalah kakak sepupuku, tapi sudah kuanggap kakak sendiri. Yang terakhir inilah yang lebih mirip denganku daripada aku dengan Allen. Ya sifatnya, ya wajahnya. (more…)
“July! Ada telpoooon!”
July menggeliat sebentar, lalu berangsur-angsur bangun. Ini hari Minggu, dan masih pukul tujuh. Huh, siapa sih yang nekad menelepon sepagi ini?
“Halo?”
“Pagi, July! Pasti baru bangun. Ya, kan?”
“Ngapain sih Mike, pagi-pagi udah nelpon? Awas kalo nggak penting.”
“Ha… ha… ha… emang gak penting koq. Cuma pengen denger suaramu pas bangun tidur. Udah ya, tidur lagi sana!”
Sial! Terlalu si Michael itu. Sambil mengumpat dalam hati July kembali ke kamarnya. Rencananya sih mau meneruskan tidur. Tapi begitu memejamkan mata malah yang terbayang kejadian barusan. Akhirnya July memutuskan untuk bangun saja. Sekalian mau joging. Eh, tapi joging koq jam tujuh sih? Malu dong sama tetangga. Ketahuan kalo bangunnya kesiangan. Apalagi tetangga July itu termasuk rajin-rajin semua. Pukul lima pagi sudah terdengar suara orang mandi, atau suara kerupuk digoreng, pokoknya menandakan dimulainya aktivitas sehari-hari. (more…)
Ini adalah sebuah cerita tentang kebodohan. Dan si bodoh itu… menyesal sekali, akulah orangnya!
Di hari minggu pertama aku pindah sekolah ke SMA di kota kecil ini, entah kenapa hari-hari berlalu dengan sangat membosankan. Terutama bagiku yang sudah biasa menghadapi hal-hal penuh kejutan di kota asalku dulu. Tiba-tiba aku punya ide gemilang.
Begini, aku akan punya saudara kembar! Itu sih impossible memang karena aku ini sebenarnya anak tunggal. Tapi enak rasanya membayangkan punya saudara kembar. Pasti asyik nanti.
Besoknya. (more…)
“Hallo?”
“Hallo juga,” jawab seseorang di ujung sana.
“Mau cari siapa, ya?”
“Kamu,”
“Aku?”
“Eh, aku suka kamu. Kamu mau jadi pacarku?”
“Ha? Siapa ini?”
Tapi tak ada yang menjawab. Tinggal Freda yang dengan tampang bingung meletakkan gagang telepon ke tempatnya semula. (more…)