Thanks, Mike… and Happy Birthday!

“July! Ada telpoooon!”
July menggeliat sebentar, lalu berangsur-angsur bangun. Ini hari Minggu, dan masih pukul tujuh. Huh, siapa sih yang nekad menelepon sepagi ini?
“Halo?”
“Pagi, July! Pasti baru bangun. Ya, kan?”
“Ngapain sih Mike, pagi-pagi udah nelpon? Awas kalo nggak penting.”
“Ha… ha… ha… emang gak penting koq. Cuma pengen denger suaramu pas bangun tidur. Udah ya, tidur lagi sana!”
Sial! Terlalu si Michael itu. Sambil mengumpat dalam hati July kembali ke kamarnya. Rencananya sih mau meneruskan tidur. Tapi begitu memejamkan mata malah yang terbayang kejadian barusan. Akhirnya July memutuskan untuk bangun saja. Sekalian mau joging. Eh, tapi joging koq jam tujuh sih? Malu dong sama tetangga. Ketahuan kalo bangunnya kesiangan. Apalagi tetangga July itu termasuk rajin-rajin semua. Pukul lima pagi sudah terdengar suara orang mandi, atau suara kerupuk digoreng, pokoknya menandakan dimulainya aktivitas sehari-hari.
Hmm, libur-libur begini enaknya ngapain ya? July paling tidak suka menganggur. Makanya ia mencari-cari kesibukan lain, misalnya membaca. Dan tempat membaca yang paling enak adalah di dekat mamanya yang sedang asyik nonton teve.
“Ma,”
“Ya?”
“Pijitin, dong.”
“Oke, tapi nanti malam ganti kamu yang mijitin mama, ya?”
“Iya, deh.”
Itulah enaknya. Yang lebih enak lagi, seringkali mamanya lupa kalau malam harinya giliran July yang mijitin. He… he…
“July,”
“Ya, Ma?”
“Michael koq seminggu ini nggak pernah ke sini?”
“Dia kan pergi Jakarta bareng adiknya.” July memutuskan untuk tidak menceritakan tentang telpon tadi pagi. Soalnya pasti akan digodain seperti biasanya.
“Ngapain? Berlibur?”
“Bukan. Ngedaftarin adiknya kuliah..”
“Oo, gitu. Jadi kalian nggak bertengkar kan?”
“Ha?! Koq mama bisa tanya begitu?” July meletakkan majalahnya. “Tiap hari kan July sudah bertengkar sama dia.”
“Kalo itu sih mama tau. Ngomong-ngomong, Michael itu mirip papamu, lho.”
“Mirip? Apanya yang mirip? Anak bandel begitu…”
“Papamu dulu juga bandel.”
“Tapi yang ini lebih nyebelin, Ma. Sukanya ngeganggu melulu. July sampai jengkeeel banget. Tadi pagi juga.”
“Tadi pagi?”
July memutuskan untuk mengaku. “Iya, Michael tuh nelpon. Katanya cuma pengen denger suara July pas bangun tidur.”
“Waaah! Romantis juga ya anak itu. Sempet-sempetnya interlokal dari Jakarta, pagi-pagi lagi.”
“Apanya yang romantis? Nggak, ah!”
“Michael pasti naksir kamu. Kalo enggak ngapain tiap hari dia main ke sini padahal nggak ada perlu apa-apa.”
“Perlunya cuma ngegangguin July.”
“Ah, dulu papamu juga gitu. Suka ngegangguin mama.”
“Dia suka ngeledekin. July jerawatan, July kurus kayak tiang, paling sebel kalo pas di depan orang banyak. Masa July dipanggil ‘julai ayam’?”
“Mama dulu juga suka diledekin papamu. Persis, deh.”
“Mama ini apa-apaan, sih? Koq semua dipersisin sama papa?”
“Lho, memang kenyataannya.”
July kembali menekuni majalahnya. Malah jadi nggak konsentrasi. Gara-gara ucapan mamanya tadi. Masa sih Michael naksir July? Nggak mungkin! Apalagi mengingat sikap Michael padanya yang seringkali mengganggu… jelas nggak mungkin.
***
“July!!! Michael dataaang!”
Suara Michael, tuh. Diam-diam July merasa kangen sekali dengan teriakan yang sudah dua minggu absen didengarnya, sejak Michael berangkat di Jakarta.
“Ngapain kamu ke sini?!” bentak July pura-pura galak.
“Pengen ngeliat kamu berubah apa nggak.” jawab Michael sambil mengitari July. “Ternyata jerawatmu bertambah dua, rambut bertambah keriting, tapi koq kayaknya lebih kurus? Aha! Pasti nggak selera makan gara-gara kutinggal pergi, ya?”
“Appaa?! Enak saja! Memangnya…”
“… dan tetap galak. Udah, aku pulang dulu. Mau makan siang, nih. Ikut?”
“Nggak!”
“Ya udah, kamu makan dulu sana. Nanti aku ke sini lagi. Oke?”
“Sana pergi! Cepetan!” usir July sambil mendorong Michael.
Kira-kira setengah jam kemudian, Michael kembali datang.
“Pinjam komputer, ya. Punyaku lagi dibetulin. Aku ada program baru nih, mau?”
“Mau, dong.”
Dalam hati July mengakui, ia kangeeen sekali sama Michael. Biarpun bandel, Michael sebetulnya baik. Perhatian banget sama July.
***
“Apa?! July belum pulang? Tapi ini kan udah jam sepuluh malam. Kalo les kan cuma sampai jam enam?”
“Iya. Bibik bingung. Bibik sudah telpon teman-temannya tapi nggak ada yang tau. Gimana kalau ibu sama bapak tiba-tiba menelepon dari Bandung? Bibik harus ngomong apa?”
“Pinjam sepeda motornya, Bik. July pasti ketemu.”
Seperti orang gila Michael menyusuri jalan-jalan di kota kecil itu. Ia mendatangi rumah semua teman July yang dikenalnya. Bahkan ke rumah orang yang nggak berhubungan dengan July pun ia datangi. Tanpa putus asa diketuknya setiap pintu rumah yang ia kenal, dimasukinya setiap warung makan, toko-toko, bahkan lapangan rumput tempat penduduk kota biasa berolah raga pun tak luput dijelajahi. Kota tempat mereka tinggal memang kecil. Tapi Michael merasa lelah luar biasa. Ia bertekad tak akan kembali sebelum July diketemukan.
Michael mendatangi telepon umum di sudut taman kota. Diputarnya nomor rumah July sambil menghapus keringat yang mengalir dari keningnya.
“Ini bibik, ya? July sudah ditemukan?”
Agak lama si Bibik terdiam. Lalu menjawab lirih diiringi isak tangis, “Belum,”
Michael merasa semakin lemas.
“July pasti nggak apa-apa. Bibik sudah lapor polisi?”
Michael tidak mendengar jawaban apapun karena tepat saat itu sebuah mobil sedan berwarna merah melaju sambil menekan klakson terus-menerus, menghindari seekor kucing yang sedang menyeberang jalan. Mata Michael yang awas menangkap sesuatu yang membuat hatinya berdebar-debar. Gagang telepon diletakkannya begitu saja. Dengan kecepatan luar biasa dikejarnya sedan merah tadi.
Tapi sedan merah itu lenyap entah kemana.
***
“July, kemana saja kamu?!”
July membalas tatapan Michael tanpa menjawab.
“July, jawab!”
July membuang muka. “Kenapa sih galak amat? Aku mau pergi ke mana kan urusanku? Koq kamu jadi galak begitu?”
Michael diam saja, tapi pandangannya tetap tegas dan tajam. Ia sudah khawatir sekali tadi, dan kalau kali ini ia bersikap keras, itu karena rasa sayang pada July. Ia takut kalau terjadi apa-apa dengan gadis itu. Jam dinding menunjukkan pukul dua belas malam.
“Aku ke tempat Robby.” jawab July akhirnya. “Kami membahas soal-soal kimia untuk ulangan besok. Bukan aku saja, Santi juga ikut dan Mia juga. Pulangnya diantar Robby.”
“Oke, itu bukan urusanku.” nada suara Michael meninggi. “Tapi kenapa kamu nggak pamit dulu? Lihat Bibik sampai cemas. Gimana kalo papa mamamu tau?! Siapa yang bertanggung jawab kalau ada apa-apa?”
“Kan ada Robby.”
Hati Michael terasa diiris-iris mendengar jawaban July. Sedan merah tadi milik Robby, dan mereka berdua berada dalam mobil. Berdua saja! Michael merasa sebal, tapi ia berusaha tak terpengaruh. “Oke, oke. Lalu kenapa kamu nggak nelpon?”
“Tadi pagi aku sudah bilang Bibik kalo mau pergi.” nada suara July mulai gemetar.
“Bibik kira Non July cuma mau les Inggris seperti biasanya.” kata Bibik takut-takut.
“Nah, kamu nggak bilang sama Bibik kan mau pergi ke mana?”
Tiba-tiba July menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya. Ia berlari ke kamarnya, lalu membanting pintu dan menguncinya. Michael mengejarnya sampai ke depan pintu kamar.
“July, buka pintu. July!!”
Tangis July pecah. “Pergiiii! Pergi kamu! Aku nggak mau ketemu kamu! Mulai sekarang jangan ke sini lagi! Aku memang salah! Sudah?! Puas?! Sekarang pergi, pergi, pergi!!! Aku benci kamu!!”
Michael hampir tak mempercayai pendengarannya. “Oke, aku pergi. Selamat malam!” ujar Michael sambil melangkah menjauhi kamar July. Ia tampak terpukul sekali.
“Sudahlah, Nak Michael. July memang begitu. Dari kecil ia dimanjakan mama papanya. Nggak pernah dimarahi. Ditegur pun jarang. Jadi mungkin ia agak shock dengan peristiwa tadi. Pasti besok akan kembali seperti biasanya.” hibur si Bibik.
“Aku tahu, Bik.” nada suara Michael melemah. “Sudah ya, aku pulang dulu.”
“Iya, hati-hati Nak Michael. Dan terima kasih…”
Rumah Michael cuma berjarak lima puluh meter dari rumah July. Tapi tiba-tiba rasanya jauuuh sekali. Terutama dari July, gadis yang sangat ia sayangi.
***
Satu minggu berlalu sejak kejadian itu. Dan Michael merasakan betul perubahan yang terjadi pada diri July. Ia tidak seceria dulu lagi. Bahkan bertemu Michael pun tidak mau.
Hari ini Michael berulang tahun yang kedua puluh satu. Mestinya pagi ini bisa lain dari biasanya. Tahun lalu gadis itu mengejutkannya dengan tar puding yang sangat besar. Dua tahun sebelumnya July membuatnya terharu dengan menghias dan merapikan kamarnya sehingga jadi heboh sekali, dengan kado-kado kecil berserakan di setiap sudut kamar. Ditambah dengan suara jam weker yang tiap malam berdering satu jam sekali sehingga ia harus mencarinya sampai ketemu untuk mematikan deringnya. Saat itu July berhasil menipunya dengan meminjam kamar selama Michael pergi kuliah. Michael mengenang saat-saat itu dan kini ia sangat merindukannya. Bukan kado-kado itu, melainkan keceriaan July dan terutama perhatiannya. Sungguh, ia merasa kangen sekali.
Jarum jam sudah menunjuk pukul tujuh malam. Michael berada di tengah kebimbangan, apakah ia harus menelepon July dan mengajaknya makan malam di restoran, atau langsung menjemput July seperti biasanya, tanpa menelepon.
Lebih baik ditelepon saja dulu.
“Halo… July?”
“July nggak ada!” klik! Tuuut…tuuut…
Rupanya July masih marah. Michael kenal betul suara gadis itu. Sedih sekali. Tapi Michael bukan tipe cowok yang mudah putus asa. Disambarnya kunci kontak mobilnya. Masalah ini harus diselesaikan sekarang juga!
Michael membayangkan berbagai kemungkinan ketika mengetuk pintu rumah July. Mama July yang membukakan pintu.
“Michael! Aduh, sudah lama sekali nggak ketemu.”
“Baru seminggu, Tante.” Michael tersenyum.
“Iya, seminggu. Tapi rasanya lamaaa sekali. Itu, July ada di kamarnya. Rasanya sih masih marah tuh anak. Padahal yang salah juga dia sendiri… Sudah deh, masuk aja. Paling dilempari bantal sama July.” kata mama July sambil tersenyum.
Heran keluarga ini, pikir Michael. Katanya July masih marah sama saya. Koq mamanya bisa-bisanya malah tersenyum?
Perlahan Michael mengetuk pintu kamar July. Ia khawatir, jangan-jangan July masih tidur. Koq tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam kamar?
“Masuk aja, deh.” kata mama July lagi.
“Tapi… nanti July marah.” kata Michael gugup. Ia tidak mungkin begitu saja masuk kamar orang lain tanpa seijin yang punya.
“Nggak, tante yang tanggung. Sudah, pokoknya masuk aja.” mama July membukakan pintu dan mendorong Michael. Setelah itu pintu ditutup dan terdengar langkah mama July yang semakin menjauh.
Kamar itu rapi, bersih, tapi sunyi sepi. Selimut terlipat rapi di samping bantal, sepreinya baru, atau setidaknya begitulah. Buku-buku bacaan yang biasanya paling berantakan saat itu tersusun sangat rapi di raknya. Begitu juga kaset-kaset dan CD yang ratusan jumlahnya.
Tapi July tidak ada.
Michael masih terpaku untuk beberapa detik, memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.
“Dor!!!”
Michael tersentak kaget, pertama oleh kerasnya suara itu, kedua karena membayangkan si pemilik suara. Suara itu dari seseorang di belakang, yang menodongkan sesuatu ke punggung Michael.
“July, apa-apaan sih kamu? Kaget tau!” Michael pura-pura marah. Ia membalikkan tubuhnya. “Huh, mestinya aku pura-pura pingsan biar kamu panik!”
Tak terkira rasa senang dan kangen yang ada di hati Michael saat July tersenyum di hadapannya. Gadis itu memakai piyamanya yang bergambar mickey mouse.
“Sori, sori. Tapi…” July melemparkan pistol-pistolan air dari tangannya, lalu menyentuh dan membelai kepala Michael. Michael tinggi, dan July harus menjinjit. “Met ultah ya, Nak Michael… Tambah gede deh sekarang.”
Michael tak dapat menyembunyikan tawanya. “Nak Michael… Nak Michael… emang umurmu berapa, sih? Tapi Michael baik koq, mau nraktir July. Ah, paling July sudah makan ya? Koq sudah mau tidur? Ayo, ganti baju. Siap makan enakk. Kutunggu di luar, ya?”
“Eit! Tunggu dulu. Aku sakit nih, nggak boleh keluar malam. Jadi kita merayakan di sini saja, ya?”
“Sakit?” Michael mengerutkan alis.
“Cuma demam biasa dan pusing-pusing.”
“Sejak kapan? Kenapa aku nggak dikasih tau?” Michael meraba kening July.
“Baru kemarin. Tapi sudah dibawa ke dokter, tadi sore sama mama.” kata July sambil melangkah ke luar kamar. “Sekarang kita pesta di kamar July!”
July datang sambil membawa keranjang besar. Di atasnya ada bertumpuk-tumpuk makanan yang terlihat lezat. Michael menggelar alas plastik yang biasa dipakai untuk piknik.
Malam itu sungguh menyenangkan dan tak terlupakan.
Ini pertama kalinya Michael mengendarai mobilnya hanya melintasi jarak lima puluh meter, yang seharusnya untuk mengajak July ke luar rumah. Tapi, tidak! July tak boleh mengetahui hal itu. Bisa diledek habis-habisan!

t a m a t, 26 Agustus 1998

One comment Add yours

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *