Beri Aku Setetes Keberanian

Chris melewati meja tempatku makan tanpa menoleh sedikitpun. Tentu saja, ia kan tidak kenal aku. Ia cowok paling hebat di sekolah ini (setidaknya bagiku). Anggota tim basket inti, ketua klub yudo, keren, pintar, ramah dan… pokoknya aku suka padanya. Hanya dengan melihatnya saja sudah senang setengah mati. Ia tidak sekelas denganku (lagipula mana mungkin? Aku satu tingkat di bawahnya). Begitulah, bagiku ia sangatlah hebat.
Masalahnya bukan hubungan antara aku dan Chris, tapi lebih pada diriku sendiri. Namaku sih cukup keren, Francie. Tapi sebenarnya aku hanya gadis yang terlalu biasa-biasa saja. Rambutku panjang sebahu dan lebih sering kuekor kuda. Badanku kurus, suaraku tidak bagus, dan aku tidak suka berolah raga.
Nah, itu Chris kembali dengan baki penuh dengan makanan. Ia duduk di meja seberang.
Jantungku berdebar-debar. Aku tidak berani melirik sedikitpun. Mungkin agak berlebihan. Tapi begitulah kenyataannya.
Sore itu, sepulang sekolah aku menemukan Catty berada dalam keadaan yang tidak biasanya. Kucing cantik berbulu putih bersih itu kelihatan aneh. Tempat makanannya masih penuh. Kusentuh Catty, kugendong dan kubelai-belai dengan lembut. Waktu kusentuh bagian perutnya, Catty menggeliat ingin melepaskan dirinya. Ada sesuatu yang keras di perutnya. Sampai malam Catty terus berbaring. Tapi ia tidak tidur. Dan ia tidak mau makan sama sekali.
Aku harus melakukan sesuatu. Mama dan papa pergi ke luar kota dan baru kembali tengah malam nanti. Kuputuskan untuk memanggil taksi yang biasa mangkal tidak jauh dari rumahku.
Aku berlari ke luar rumah dan kembali dengan panik. Tak satupun taksi berhasil kutemui. Keadaan Catty makin mengkhawatirkan. Aku menelepon perusahaan taksi. Tapi taksi yang kubutuhkan tak kunjung datang.
Menit demi menit berlalu. Aku tidak mengharapkan yang lebih baik daripada kepulangan mama dan papa. Malam itu sudah pukul sebelas. Aku agak ragu-ragu untuk memutuskan membangunkan salah seorang tetangga. Saat itulah Chris lewat di depan rumahku dengan motornya yang suaranya sangat kukenal. Dengan kecepatan tinggi kubuka pintu dan menerobos halaman.
“Chris, stop! Stop! Berhenti!” aku merasakan suaraku serak.
Chris berhenti. Ia pasti heran terhadapku yang memanggil namanya dengan panik, padahal ia sama sekali tak mengenalku. Tapi saat itu yang kupikirkan hanya Catty.
“Catty sakit, antar ke dokter ya?” aku tak menunggu jawabannya dan langsung menggendong Catty dalam pelukanku. Kami meluncur ke tempat praktek dokter hewan satu-satunya di kota ini.
Di tempat dokter yang sudah biasa menangani Catty barulah aku mengerti apa yang sesungguhnya terjadi. Catty kena tumor dan ada dua pilihan yang harus kupilih saat itu juga. Aku bisa membiarkan Catty menderita sepanjang sisa hidupnya atau… dokter akan menyuntiknya dan Catty akan mati dengan tenang dan damai, tanpa rasa sakit.
Itu tidak mungkin! Aku tidak mungkin memilih salah satu di antaranya. Aku ingin Catty tetap hidup. Ingatanku melayang pada tiga tahun yang lalu. Sore itu papa pulang sambil membawa keranjang. Ada Catty di dalamnya, masih kecil mungil dan matanya belum terbuka. Aku langsung jatuh cinta padanya. Ia teman sepermainan yang sangat menyenangkan bagiku yang anak tunggal ini.
“Francie, aku tahu ini sangat sulit.” dokter merangkul bahuku. “Teleponlah papamu dulu.”
Dengan berat hati, papa dan mama memilih yang terakhir.
Malam itu sangat sulit kulupakan. Catty tertidur untuk selamanya dalam buaianku.
Aku pulang diantar Chris. Selama perjalanan kami terus membisu. Chris memegang sebelah tanganku, sementara tangan yang satunya tetap menyetir. Perasaanku sangat kacau karena Catty. Tangan Chris sedikit menenangkanku. Air mataku terus mengalir sepanjang perjalanan. Aku menangis tanpa suara.
“Makasih, Chris.” Hanya itu kata-kata yang meluncur dari tenggorokanku. Lalu aku cepat-cepat berbalik memasuki rumah dan menangis sepanjang malam.
Begitulah awal mula yang sulit dipahami yang membawaku mengenal Chris lebih jauh. Aku dan Chris tidak pernah saling berbicara sejak saat itu. Jika bertemu, Chrislah yang mula-mula memberikan senyumannya dan aku membalas dengan gugup. Hanya itu saja, tidak lebih.
Ia semakin hebat. Aku selalu ingat pada jaket coklat mudanya yang keren. Aku tahu persis bagaimana cara ia berjalan, berlari, bahkan gayanya waktu menepuk pundak teman-temannya. Ia sangat populer dan disukai teman-temannya.
Sementara aku tetap gadis yang biasa-biasa saja. Aku tidak punya teman sebanyak Chris. Temanku bisa dihitung dengan jari. Salah satunya, July, tahu kalau aku naksir Chris. Dan ia tak henti-hentinya menyemangatiku.
Aku juga bercerita tentang kejadian di malam tak terlupakan itu pada July seorang. Agak malu juga menceritakan saat Chris memegang tanganku. Mestinya bagian itu tak usah kuceritakan. Hanya akan jadi bahan tertawaan saja. Begitu selalu pikirku.
July bukan anak seperti itu. Aku kenal ia sudah lama, dan belum pernah sekalipun July membuatku malu. Reaksinya tidak berlebihan waktu kuceritakan bagian itu. Aku sungguh beruntung mempunyai teman seperti July.
“Sabtu sore besok ada pertandingan basket lho, Cie. Tim kita akan melawan tim dari sekolah lain. Lihat, yuk!”
Tentu saja aku mau.
“Sayang kita bukan anggota tim chearleader.” kata July lagi.
“Nggak apa-apa.” kataku. “Kita nyorakin dari bangku penonton saja. Tapi sorakan kita akan lebih hebat dari anggota tim chearleader manapun.”
“Setuju!” kami ber-toast. July sendiri naksir Jesse yang juga anggota inti tim basket. Bedanya, ia sudah selangkah lebih maju dariku. Minggu lalu Jesse mengajak July kencan di bioskop dan restoran.
“Pertamanya kan Jesse nggak kenal aku. Nah, aku berusaha gimana caranya supaya bisa kenal. Pokoknya diajak ngomonglah, jangan diem aja. Kelihatan kan, hasilnya?”
Di pinggir lapangan kami berteriak-teriak memberi semangat pada tim sekolah. Pertandingan sudah hampir selesai dan kedua tim bersaing ketat dalam angka. Menjelang detik-detik akhir Jesse melemparkan bola pada Chris yang langsung menggiringnya ke ring lawan. Chris berada sangat dekat dengan jaring dan bersiap-siap melakukan tembakan. Bola melayang menuju jaring, bergulir di sekitarnya dan… tidak masuk! Terdengar bunyi peluit panjang mengakhiri pertandingan, dengan kemenangan di tangan tim lawan.
“Sayang, kurang sedikit lagi.” gerutu beberapa suporter. “Padahal jaraknya dekat begitu.”
“Iya, huuu… Gara-gara si nomor dua belas itu!”
Chris bernomor punggung dua belas, dan ucapan pedas itu didengarnya dengan jelas.
July langsung berlari menghampiri Jesse yang tampak lelah sekali. Ia dan ketiga pemain lainnya masih duduk-duduk di pinggir lapangan. Aku mencari-cari Chris. Di mana dia?
Sungguh sulit untuk memejamkan mata malam itu, membayangkan peristiwa siang tadi. Chris pasti kecewa sekali. Padahal kemenangan tadi adalah tiket ke pertandingan antar wilayah. Dan kesempatan itu terbang sudah. Betapa tidak enaknya disalahkan begitu banyak orang. Memang tidak seorangpun para pemain itu menyalahkan Chris, tapi reaksi para suporter lain lagi.
Aku mengingat betapa besarnya peranan Chris di menit-menit terakhir kematian Catty. Ya, sekaranglah saatnya membalas kebaikan Chris. Sorenya, kukumpulkan semua keberanianku untuk mengangkat gagang telepon dan memutar nomor telepon Chris.
“Halo?” terdengar suara yang membuat jantungku berdebar lagi. Hei, ini tidak boleh terjadi! Aku kan mau menghibur Chris. Jangan sampai memalukan.
“Chris… Chris ada?”
“Ya, ini aku sendiri. Bicara dengan siapa, ya?”
“Ini aku… eh…” nah, tuh. Aku jadi gugup.
“Sebentar! Biar kuingat-ingat dulu!” katanya menyetopku. “Francie, ya? Benar, kan?”
Aku terkejut, tapi juga senang. Koq tau, ya?
“Ada apa, Cie?”
“Nggak pa-pa, cuma… mau ngomong, kamu… kamu jangan terlalu sedih. Ya?” heran, hanya itulah kalimat yang keluar dari mulutku. Padahal aku sudah mempersiapkan yang lebih baik dari itu, tadi. Tapi kini seakan semuanya hilang tertelan kegugupanku. Hmm, kalau July yang ngomong pasti semua akan beres.
“Iya, deh.” kata Chris. “Trims ya. Seneng banget ada yang nelpon untuk menghibur aku. Ngomong-ngomong kamu besok ada acara?”
“Nggak, nggak ada.”
“Kamu mau menemaniku lihat pameran binatang peliharaan di deket stadion? Baru mulai besok pagi, lho. Kujemput jam empat sore. Pasti asyik. Eh, tapi mau kan?”
Entah mimpi apa aku semalam. Tapi perjalananku kini menjadi selangkah lebih maju. Dan itu dimulai dari sebuah keberanian.

t a m a t
Surabaya, 16 November 1998

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *