I Love You

“Hallo?”
“Hallo juga,” jawab seseorang di ujung sana.
“Mau cari siapa, ya?”
“Kamu,”
“Aku?”
“Eh, aku suka kamu. Kamu mau jadi pacarku?”
“Ha? Siapa ini?”
Tapi tak ada yang menjawab. Tinggal Freda yang dengan tampang bingung meletakkan gagang telepon ke tempatnya semula.

Peristiwa itu sudah lama terjadi. Enam bulan yang lalu. Hampir Freda melupakannya kalau saja sore itu ia tidak mendapat telpon yang sama.
“Hallo, kenalan boleh, enggak?”
Freda kaget. Suara itu sama persis dengan yang dulu minta jadi pacarnya. Tapi Freda nggak mau ambil pusing. Diladeninya juga pertanyaan itu.
“Kamu yang dulu pernah calling saya itu, kan?”
“Lho, kok tau? Padahal kan udah lama?”
“Ya tau dong. Eh, kamu belum kenal aku koq minta jadi pacarku?”
Suara di seberang tertawa. “Masa nggak boleh?”
“Ya boleh, eh, maksudku ini belum tentu diterima, lho… Aku kan nggak tau kamu, kamu juga nggak tau aku. Lagian siapa tau kamu udah punya pacar.”
“Lho, kok tau?”
“Jadi bener kamu udah punya pacar?”
“Belum. Gimana, kamu mau kan?”
“Sori, aku sih udah punya. Namanya Jojo. Kenal?”
“Jojo pacarnya Ira?”
“Bukan, lain lagi.” kata Freda sambil menahan tawa. Jojo pacar Freda kan cuma fiksi. Boongan. Freda cuma jaga-jaga saja. Jelasnya, Freda belum punya pacar.
“Pacarku itu,” lanjut Freda, “udah jelek, item, pendek, gendut, gundul lagi…”
“Lho?”
Hampir meledak tawa Freda. “…tapi aku suka.”
“Ah, masa sih?” nada suara Jeffry kayak orang kebingungan. “Ya terserah deh. Pokoknya kamu mau nggak jadi pacarku?”
“Sudah kubilangi. Aku sudah punya Jojo. Dan aku nggak kenal kamu, kamu juga…”
“Makanya, kenalan dulu…”
“OK. Sebutin dulu namamu.”
“Jeffry. Kalo kamu?”
“Freda.”
“Wah, bagus lho, namamu. Seperti nama anjingku.”
“Sial. Awas kamu!”
“Ha… ha… bohong, koq. Aku nggak punya anjing. Tapi bentar lagi punya. Don’t worrylah, pasti kuberi  nama Freda.”
“Jeffry, kamu koq nakal sekali sih? Kutolak, lho…”
“Wah, jangan dulu. Rugi kamu nolak aku.  Lagian kata kacaku, aku ini kerennya melebihi Bon Jovi.”
“Ah, yang bener aja.”
Jeffry tertawa lagi. Freda jadi geli. Dari tadi memang Jeffry suka memperdengarkan suara tawanya. Lucu, deh.
“Eh, Freda… Nanti kutelpon lagi ya? Mamaku udah dateng tuh,”
“Ha?”
Tak ada jawaban. Rupanya Jeffry udah keburu menutup telpon sebelum Freda sempat nanya macem-macem.
Lucunya lagi, pas tidur siang Freda mimpi ketemu Jeffry. Sayangnya wajah Jeffry keliatan nggak jelas. Perasaan Freda, Jeffry itu kakaknya yang belajar di luar negeri, dan pulang untuk menemui Freda sebagai adik. Padahal kenyataannya Freda nggak punya kakak. Maklum, namanya juga mimpi.
Malamnya, abis nonton Assasination, Jeffry nelpon lagi.
“Hai, Freda. Aku pengen ketemu kamu. Tapi gimana caranya?”
“Aku juga pengen. Misterius, sih.” kata Freda. “Stop dulu, kamu nelpon dari mana? Koq banyak suara orang?”
“Dari telpon umum. Abis di rumah rame, sih. Kakak perempuanku kalo tau aku nelpon kamu pasti ribut-ribut. Daripada diusilin, kan aman di sini?”
“O, gitu.” Freda menahan tawa. “Trus gimana caranya ketemu?”
“Gini aja. Kamu ke Empire sekarang.  Aku tunggu.”
“Sekarang?”
“Sekarang.”
“Hush! Ngeri, dong.”
“Lho, kan ada aku?”
“Besok aja, Jeff. Libur, kan?”
“Nggak,”
“Lho, Minggu koq nggak libur?”
“O, Minggu ya? Kalo gitu libur.”
“Huu, payah. Nggak tau hari…”
“Nggak kuapalin, sih. Lagian kan nggak mungkin keluar di ulangan. He… he… he… OK. Besok, di… di mana? Di rumahmu?”
“Jangan. Eh… ya sudah, di rumahku.”
“Rumahmu mana?”
Freda menyebutkan alamatnya selengkap mungkin. Pake kode pos segala.
“Eit, jangan tutup dulu. Tapi kamu nggak boleh nyesel, lho, setelah ngeliat wajahku.”
“Kenapa? Katanya kayak Bon Jovi.”
“Ya enggak, dong. Beda jauh malah. Bagusan dia. Pokoknya aku ini jeleeeek, banget.”
“Kalo gitu sama, dong.”
“Apa?”
Freda cepat-cepat meletakkan gagang telepon sambil ketawa sendiri.
Diam-diam Freda mengharapkan Jeffry datang. Ia penasaran sekali dengan penelpon misterius itu. Tapi sampai pukul tujuh malam yang ditunggu tidak muncul juga.
%%%
Pukul tujuh tepat bel sekolah berbunyi. Freda sudah duduk dengan manisnya di kelas. Hanya ia yang terlihat tenang-tenang saja, sementara teman-temannya kebingungan mengerjakan tugas matematika untuk jam terakhir nanti.
Untung, jam pertama yaitu Fisika nggak ada gurunya. Mungkin ada rapat guru. Jadi mereka bisa dengan tenang mengerjakan tugas itu.
“Freda, ngalamun aja. Gimana pe-ermu? Sudah beres ya?” seseorang menepuk bahu Freda.
“Aduh, Nathan. Kaget aku.” Freda siuman. Nathan yang senyumnya muanis banget itu duduk di bangku sebelah Freda yang kebetulan kosong.
“Lho, Otto mana?” tanya Nathan sambil celingukan mencari Otto. Otto ini biarpun cowok tapi duduknya sebangku sama Freda. Habis jumlah murid perempuan dan laki-lakinya ganjil, sih. Daripada sendiri-sendiri kan enakan ada temannya. Lagian Otto ini memang mudah bergaul sama teman cewek.
“Ke kantin mungkin. Dari bel pertama tadi ia mengeluh kelaparan terus.”
“Wah, beneran kalo gitu. Moga-moga ke kantinnya lamaan dikit ‘tu anak. Eh, kamu koq dari dulu sebangku sama Otto terus, sih? Sekali-sekali sama aku, gitu…”
“Males, nanti bisa-bisa aku ikut disayang sama guru Fisika itu, gimana?”
Nathan memang paling pintar kalo Fisika. Jadi ia disayang gurunya. Suka diberi pertanyaan. Sialnya, Felix yang duduk sebangku sama Nathan suka ikut diberi pertanyaan. Ngeri, dong.
“Aku sih pengen duduk sama kamu.” kata Nathan dengan mimik rada memelas. Tapi detik berikutnya ia sudah ceria lagi. “O ya, besok Minggu kita jadi mengisi acara, kan?”
“Jadi, dong. Tapi aku belum apal kata-katanya. Ajarin, dong…”
“Sekarang, ya? Mumpung nganggur.”
Satu lagi kelebihan Nathan, suaranya amat bagus. Mirip penyanyi profesional karena sering dilatih. Freda paling suka mendengar Nathan menyanyi. Kalau disuruh pilih Nathan atau Michael Jackson atau siapapun dia, Freda pasti pilih Nathan.
Dan sekarang, saat sedang bahagia karena jam Fisika kosong, Freda dengan senang hati mendengarkan Nathan menyanyi. Pelan saja volumenya, yang bisa mendengar jelas hanya Freda.
Precious Lord, take my hand
let me on, help me stand
I am tired, I am weak, I am worn
Thru’ the storm, thru’ the night
let me on to the light…
Kemudian Freda ikut menyanyi meskipun belum hapal benar.
Take my hand, Precious Lord
Let me home…
When my way grows drear
Precious Lord, linger near…
Tahukah kamu, saat ini, detik ini, Freda sangaaat bahagia.
%%%
Malamnya Jeffry nelpon lagi. Kebetulan yang nerima Freda sendiri.
“Hallo, Freda ada?”
“Jeffry ya? Aku kira kamu sudah lupa sama aku. Lama nggak nelpon.”
“Jadi kamu nunggu telponku? Aduh, jangan ngge-erin dong. Lagian Jojo kamu gimana?”
“No problem. Eh, ngapain kamu nelpon lagi? Kemarin Minggu juga nggak dateng kenapa?”
“Sory, ada masalah. Tapi udah beres, koq. O ya, kamu gimana, mau nggak jadi pacarku?”
“Lho, aku kan udah punya…”
“Jojo, khan? Yang namanya Jojo itu gimana sih? Kamu koq suka banget. Orangnya pasti baik. Kenalin dong, ke aku…”
“Oo, itu gampang.” jawab Freda. “Dia itu memang baiiik sekali. Ya, pokoknya gimana gitulah. Kamu tau sendiri.”
“Kalo gitu kamu menolak aku, nih?”
Freda cuma tertawa.
“Koq ketawa?’
“Abis kamu lucu, sih. Katanya nggak pernah liat aku. Koq ngebet banget pengen jadi pacarku? Pasti kamu nggak serius, kan?”
“Serius, lho.”
“Eh, sebelumnya aku mau ngomong dulu, Jeff. Tapi kamu jangan marah lho.”
“Ngomong aja.”
“Aku belum punya pacar. Jojo itu bo’ongan.”
Cukup lama Jeffry berdiam diri. Kaget pasti. Tapi kemudian ia tertawa. Aneh, Freda merasa sangat akrab dengan tawa itu.
“Sialan kamu, Freda. Tapi… kalo gitu kamu mau jadi pacarku, kan?”
“Ah, kamu sih masih mencurigakan, Jeff. OK. Kuakui ya, asal kamu jangan keburu ge-er. Gini, Jeff. Aku suka dapet telpon dari kamu. Nggak tau kenapa, tapi rasanya aku sudah kenal kamu dengan sangat akrab. Padahal kan kita cuma ketemu di telpon. Tapi… ya gitulah. Aku suka denger suaramu.” ujar Freda. Hampir ia melanjutkan bahwa suara Jeffry mirip suara Nathan yang ia sukai. Tapi nggak jadi.
“Aku juga suka dengerin suaramu. Kalo gitu…” kata Jeffry pelan-pelan, dan hati-hati. “… kamu jadi pacarku saja, ya? Please. Pacar di telpon aja. Mungkin kamu nggak tau Jeffry itu orangnya seperti apa. Tapi, mau nggak?”
“Maksudmu, kamu pacarku kalo di telpon aja. Gitu?”
“Iya, gitu.”
“Lucu, ya?”
“Memang.”
“Aduh, gimana ya?”
“Mau, dong…”
“Ya deh. He… he… Lucu. Pacar di telpon.”
Jeffry tertawa.
“Eh, Jeff,”
“Iya?”
“Kamu sudah sekolah?”
“Sialan. Kayak nanyain anak kecil saja. Aku sudah kelas tiga SMA. Kalo kamu?”
“Sama, dong. Kamu sekolah di mana?”
“Di… enaknya di mana?”
“Jeff, aku serius, nih.”
“Yaaa… di SMA. Eh, SMU ding. Kan udah di ganti. Kalo kamu?”
“Kamu nggak mau bilangin, koq. Aku ya nggak mau.”
“O, gitu.”
Agak lama mereka saling bertukar cerita. Tapi Freda nggak puas. Kayaknya Jeffry tuh banyak banget rahasianya. Padahal Freda ingiiin sekali mengenal Jeffry.
“Jeff,”
“Ya?”
“Besok Minggu kamu ada acara?”
“Kenapa?”
“Datang dong, ke gerejaku. Ada KKR.”
“KKR?”
“Ya. Datang ya? Awas kalo nggak datang. Kita put…”
“Eh, jangan. Jangan putus. Aku pasti datang.”
Saat pembicaraan mereka usai, Freda merasa dirinya sudah gila. Koq tadi bisa-bisanya mau jadi pacarnya Jeffry? Sungguh, itu sesuatu yang sangat tak masuk di akal!

Sore itu, di halaman gereja, Freda celingukan mencari seseorang. Ia penasaran sekali sama Jeffry. Gimana sih bentuk pacarku itu? pikirnya.
“Hai, Freda. Selamat sore.”
Freda kaget. Enak-enak ngelamun, Nathan datang.
“Eh, Nathan. Sore juga.”
“Nyari siapa, Freda?”
“Temen.” Freda celingukan lagi.
“Temen apa pacar?”
“Tem… eh, pacar.” jawab Freda agak kikuk. Ditelitinya wajah Nathan, tapi nggak ada tanda-tanda cemburu atau semacamnya. Diam-diam Freda kecewa.
Nathan malah tersenyum. “Pacar di telpon, kan?”
Kali ini Freda benar-benar dibuat tak berkutik. Baru ia sadar bahwa…

T A M A T
(for someone special)

One comment Add yours
  1. Please, can you PM me and tell me few more thinks about this, I am really fan of your blog…gets solved properly asap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *