Nina’s Diary 010105

Nina’s Diary

Happy New Year, Nina! Thank you for being my best friend.

Love, hug and pray,
The cutest woman in the world,
Anya

Nina’s Diary – Intro, 2 Januari 2005, 21.00
Ini pertama kalinya aku menulis diary.
Tidak seperti gadis-gadis lain, aku memulai diary ini pada umur dua puluh enam tahun. Sementara teman-teman seangkatanku udah pada menikah dan punya anak, aku pacar saja belum punya. Jangankan punya pacar, yang naksir pun nggak ada. Kalian pasti mengira ada yang salah denganku. Tapi rasanya aku baik-baik saja. Tinggiku seratus enam puluh, berat empat puluh delapan (kadang-kadang mencapai lima puluh dua), berwajah biasa, kulit putih pucat, rambut lurus tidak ikal pun tidak (di antaranya, percayalah, kau tidak akan menyukai model rambutku), tidak ada keahlian menonjol dalam bidang apa pun, cenderung payah dalam olah raga.
Saat ini tahun ke dua aku bekerja di perusahaan yang baru saja go public sebagai akuntan bergaji sedikit. Cuma cukup buat bayar uang sewa rumah, listrik, telepon, dan makan secara sederhana. Oya, aku tinggal sendirian di Surabaya ini. Maksudku, aku masih punya papa dan mama, hanya saja mereka tinggal terpisah denganku kira-kira sejauh 300 km. Aku jarang pulang kampung. Paling kalau ada hari libur minimal 2 hari berturut-turut, baru aku pulang.
Kalau ditanya apakah aku menyukai pekerjaanku, aku pasti bingung menjawabnya. Entahlah. Kadang aku senang, kadang bosan… Tapi belakangan ini aku sibuk sekali mengurusi tetek bengek yang berhubungan dengan go public ini. Super banyak yang harus dikerjakan. Meskipun capek, tapi bagiku ini jauh lebih baik daripada menganggur. Aku benci nggak ngapa-ngapain. Karena saat nggak ngapa-ngapain pikiranku bisa melayang jauuuh sekali. Aku benci kalau pikiran sudah melayang jauh. Ini bisa berarti penyiksaan, apalagi kalau teringat kejadian-kejadian masa lalu yang menyebalkan.
Jadi kesimpulannya, aku ini nggak suka menganggur, tapi juga nggak menikmati pekerjaanku yang sekarang. Bisa dibilang aku hanya menikmati kesibukanku. Aku berpikir jika saatnya tepat nanti aku akan mencari pekerjaan yang cocok. Yang gajinya lebih besar. Entah apa itu… pasti ada.
Diary ini diberikan oleh sahabatku sejak TK. Namanya Anya. Katanya ia tertarik membeli diary ini karena sampulnya yang bagus, dengan gambar hati tiga dimensi. Dan karena ia sudah punya diary sendiri, maka diberikan padaku. Enak juga punya sahabat sebaik dia. Aku masih ingat waktu pertama kali bertemu dengan Anya. Waktu itu jam istirahat, aku menjumpainya memakai baju yang sama persis denganku. Lalu kami asyik saling meneliti baju masing-masing. Pita, sama. Boneka yang nempel di rok, sama persis. Corak bajunya pun sama. He he…
Anya itu tidak cantik secara fisik. Bodinya pendek dan agak gemuk. Bisa dibilang aku masih lebih cantik dibanding dia. Tapi Anya duluan yang dapat pacar, waktu masih kelas 1 SMU. Pacarnya ganteng, lagi. Waktu masuk kuliah, mereka putus karena pacarnya kuliah di luar negeri. Sedangkan Anya juga di luar negeri, tapi belahan bumi yang lain. Aku sih cukup dalam negeri saja. Anya cuma dua tahun kuliah di luar negeri, kemudian kembali lagi. Karena kami bertetangga, hubungan persahabatan tidak meredup sama sekali.
Anya sudah tidak punya orang tua maupun sanak saudara dekat sama sekali sejak pertengahan ia duduk di bangku perguruan tinggi. Mungkin dia punya saudara jauh, tapi bahkan dia sendiripun tidak mengenal atau tahu di mana mereka sekarang, apalagi aku. Beruntung, orang tua Anya meninggalkan harta benda yang sangat banyak sehingga Anya tidak perlu kuatir sedikitpun tentang kebutuhan fisiknya. Beruntung juga, sejak kecil Anya dilatih mandiri sehingga ia hampir-hampir bisa dibilang tidak perlu bantuan orang lain. Aku sering menginap di apartemennya yang berada di daerah elit.
Tiga bulan lalu Anya dapat pacar lagi. Lalu bulan Oktober kemarin mereka menikah. Aku yang jadi bride maid-nya lho. Menderita juga waktu didandani di salon. Nggak boleh gosok-gosok mata karena bulu mata bisa lepas, nggak boleh menggigit kuku karena lipstik bisa nempel di gigi, nggak boleh garuk-garuk kepala karena tatanan rambut bisa rusak. Padahal kulit kepala gatal sekali kena jepit rambut yang ditempelkan kuat-kuat oleh orang salon itu. Tapi menurutku aku jadi cantik. Impas deh dengan penderitaannya.
Bestman-nya lumayan cakep. Namanya… lupa. Sekitar Irwan atau Arvin… lupa. Si Irwan (sebut aja begitu) ini temannya Ken, suami Anya. Dilihat dari sikap mereka waktu acara wedding, aku berani bertaruh bahwa mereka bukan sahabat. Mungkin cuma teman biasa. Lagipula, kata Anya, suaminya baru kenal dengan Irwan satu bulan sebelum mereka menikah. Nah lo, bagaimana bisa baru kenal satu bulan udah bersahabat?
O ya, sejak merit, Anya dan suaminya pindah ke apartemen di pinggir kota. Aku jadi agak kangen karena rumah tempat aku tinggal sekarang sangat jauh dengan tempat Anya tinggal. Besok waktu acara New Year Party aku ingin ngobrol sepuasnya dengan sahabatku tercinta itu.

One comment Add yours
  1. wah, aku juga kalo nulis diary dii blog. Soalnya kalo di buku takut ketahuan mama, hehe. Oya, blogmu simpel tapi bagus kio. Kapan2 mampir ke blog ku ya, hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *