Nina’s Diary 010705

7 Januari 2005, di rumah duka, 20.10
Sebetulnya ini aneh. Aku, sahabat terdekat Anya, hanya menangis satu kali sejak Anya meninggal. Aku sedih, pasti. Tapi sedih nggak berarti harus nangis kan?
Aku sebal sekali waktu Rin, Sophie, dan dayang-dayangnya ketahuan menggosipkan aku satu jam yang lalu.
“Kasihan Anya,” gosip mereka, “sahabatnya nggak kelihatan sedih sama sekali.”
“Iya, si Nina itu, malah asyik menarik perhatian cowok-cowok teman Ken.” Seseorang menimpali.
“Yah… kapan lagi kesempatan nggaet mereka kalau bukan sekarang? Aku ini sahabat baik Anya, dia bisa bilang begitu. Dan… bla… bla… bla…”
Masih panjang bahan gosip mereka, tapi aku malas menulis semua itu di sini. Yang keterlaluan, aku berada nggak jauh dari mereka saat itu. Boleh dong kalau setelah itu aku langsung mengusir mereka dengan tidak hormat. Yah, Ken menegurku karena katanya aku kasar. Tapi menurutku kalau Ken yang digitukan pasti akibatnya jauh lebih gawat bagi Rin, Sophie, dan dayang-dayangnya itu (aku nggak tahu nama-nama ketiga cewek yang lain, tapi dari sikap mereka yang suka nempel dan meniru, kayaknya mereka ini cocok jadi dayang… he he…)
Eh, cowok bestman itu datang.

7 Januari 2005, masih di rumah duka, 22.00
Huh, capek sekali malam ini. Untung besok kantor libur. Si cowok bestman itu, ternyata bernama Irvine. Bukan Irwan atau Arvin. Untung aku nggak salah menyebut namanya tadi. Dia itu ternyata nggak pendiam sama sekali. Aku sampai kewalahan meladeni dia ngobrol. Tapi Irvine lebih banyak bertanya tentang Anya. Aku sampai heran, jangan-jangan dia naksir Anya?
Begini nih obrolan kami:
I : Kenal Anya dari mana?
N : Kami teman dari TK.
I : Kalian dekat sejak kapan?
N : Sejak TK.
I : Maksudku, dekat sebagai sahabat…
N : Ya sejak TK itu.
I : Lalu kalian terus bersahabat sampai sekarang?
N : Ya iya lah. Aku nggak punya sahabat lain selain Anya. Kalau teman sih banyak. Tapi teman kan lain. Mereka lebih nggak bisa diandalkan.
I : Jadi menurutmu Anya bisa diandalkan?
N : Sangat bisa. Aku ingat dulu ayahku pernah hampir dipenjara karena korupsi. Anya itu kaya. Uangnya bisa menyelamatkan ayahku. Pernah juga aku sakit parah sampai hampir mati, Anya yang merawatku habis-habisan.

Sebetulnya aku malu ayahku yang korupsi ketahuan oleh cowok seperti Irvine, tapi bagaimana lagi, udah keceplosan. Biarlah, toh ia bukan siapa-siapaku.
I : O ya? Baik sekali Anya itu.
N : He-eh.
I : Bagaimana hubungan Anya dengan suaminya?
N : Apa? Eh…

Rasanya pertanyaan ini sudah agak keterlaluan. Maksudku, Irvine ini benar-benar bukan siapa-siapa. Yakin deh, dia pasti naksir Anya. Jadi aku mulai bersikap ketus.

N : Aku nggak gitu tau. Itu kan urusan intern mereka. Meskipun aku tau, aku nggak bakal ngomong-ngomong ke orang lain.
I : Menurutku, mereka nggak begitu akur. Betul nggak?

Aduh, cowok ini! Aku betul-betul nggak tau harus ngomong apa. Akhirnya, menahan jengkel, aku tinggalkan dia dengan alasan harus meladeni tamu-tamu lainnya. Irvine cuma nyengir. Satu menit berikutnya ia sudah kedapatan ngobrol akrab dengan Jazz, yang kukenal sebagai asisten Ken. Nah lo, kira-kira aku sudah tau topik pembicaraan mereka. Apalagi sesekali saat kuintip, wajah Jazz seringkali jadi memerah. Mungkin dia juga menahan marah, sama sepertiku.
Aku masih dikuasai rasa jengkel saat menulis diary ini. Kok bisa sih, cowok bersikap seperti itu? Maksudku, pada mulanya aku simpatik pada penampilannya. Cukup oke. Terutama matanya. Juga senyumnya. Juga postur tubuhnya. Juga caranya berpakaian.
Tapi… stop! Aku nggak naksir dia sama sekali, apalagi setelah kejadian barusan.
Cukup deh tentang Irvine. Aku yakin nggak akan berhubungan dengan dia lagi.
Ken marah-marah terus hari ini. Mungkin karena stress. Nggak heran, banyak pelayat yang datang, kebanyakan sih teman-teman Anya, yang berkasak-kusuk tentang kematian Anya yang terlalu mendadak. Malah banyak juga yang menaruh curiga terhadap sebab utama Anya meninggal.
Hari yang buruk. Pertama, aku nggak punya sahabat lagi. Kedua, muncul cowok aneh yang terlalu ingin tau. Ketiga, Ken yang marah-marah terus dan berimbas kepadaku. Padahal aku ini bisa dikatakan sebagai yang paling membantu acara melayat ini. Orang tua Ken kaya, memang. Tapi mereka bisa dikatakan nggak membantu sama sekali. Lebih mirip bos yang perintah sana, perintah sini. Aku tahu betul, sedikitpun mereka nggak pernah membantu membawakan piring berisi kue-kue atau aqua gelas kepada para tamu. Sementara aku sudah mirip sekali dengan pembantu.
Kalau dulu masih ada Anya, aku bisa dengan lancarnya curhat ke dia. Meskipun tentang mertuanya sendiri, aku yakin Anya mau mendengarkan dengan sabar… eh, meskipun aku belum pernah curhat tentang ini. Soalnya aku tahu bagaimana mertua Anya itu sebenarnya, baru hari ini. Mungkin sebenarnya Anya juga tersiksa. Siapa tahu.
Aduh, sedih rasanya kalau ingat Anya. Aku nggak habis pikir kok cepat banget dia meninggalkanku.
Ngantuk. Tapi belum boleh pulang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *