Nina’s Diary 010905

9 Januari 2005, 18.10
Aku sampai bingung harus mulai menulis dari mana. Luar biasa sekali kejadian hari ini, membuatku shock.
Tadi pagi, kira-kira jam 8.00, aku sedang bersiap-siap memulai acara penguburan ketika tiba-tiba dua orang polisi datang mencari orang tua Ken.
Aku belum tahu apa yang terjadi saat itu. Yang jelas, tiba-tiba mama Ken marah-marah dan wajah papa Ken memerah menahan marah. Jelas, mereka marah pada kedua polisi itu. Ken yang paling emosi. Dia membentak-bentak kedua polisi bahkan hampir menerjang mereka, kalau tidak ditahan oleh Jazz.
Aku sudah hampir melibatkan diri dengan mereka saat tiba-tiba tanganku ditarik oleh seseorang. Ternyata Irvine. Entah sejak kapan dia datang. Kuat cengkraman tangannya pada lenganku. Akhirnya ia berhasil membawaku ke ruangan lain, kira-kira berjarak 15 meter, sebelum kemudian menjelaskan sikapnya padaku.
“Sori, Nin. Sori tapi aku harus melakukan ini.” Katanya padaku sambil melepas memegang lengan tanganku.
Aku memikirkan kata-katanya agak lama. Kemudian aku sadar, ternyata dia yang memanggil para polisi itu ke sini. “Kenapa?” tanyaku setengah berbisik.
“Kamu tau nggak kenapa Anya meninggal?”
“Jelas! Anya kan kebanyakan minum bir!” aku hampir berteriak.
“Sst! Jangan keras-keras!”
Aku menunggu Irvine bicara lagi, tapi ternyata ia hanya memandangiku. Dahinya sedikit berkerut. Ia kelihatan serius sekali.
“Nggak. Itu salah. Anya mati diracun.”
“Di… diracun?”
Irvine mengangguk mantap. “Kamu tahu, di hari Anya meninggal, aku ada di sana. Aku tahu pasti tanda-tanda orang keracunan karena aku pernah mempelajarinya. Tanda-tanda itu jelas terlihat pada Anya, tapi aku nggak tahu kenapa. Banyak pertanyaan yang aku belum tahu jawabannya pada saat itu. Ditambah lagi, semua orang sepakat Anya mati kebanyakan minum bir. Jadi beberapa hari ini aku mencari bukti-buktinya.”
Aku sekarang tahu, itulah sebabnya mengapa Irvine bersikap menjengkelkan belakangan ini.
“Aku menemukan obat batuk milik Anya, obat dari dokter pribadinya, di dalamnya ada racun XXX.”
Sungguh, saat itu perasaanku seperti campur aduk. Di satu sisi aku tidak percaya bahwa Anya mati keracunan, di sisi lain aku seolah dipaksa untuk percaya pada pria yang berada di hadapanku saat ini.
“Ja… di?”
Irvine mengangguk. “Aku curiga seseorang sengaja menaruh racun di sana.”
Aku benar-benar tak bisa berkata apa-apa saat itu. Berbagai pikiran masuk ke kepalaku. Jika seseorang sengaja menaruh racun di sana, padahal ia tahu bahwa itu obat milik Anya, berarti ia bermaksud membunuh sahabatku itu.
Membunuh. Kedengarannya sungguh mengerikan.
Seumur hidup tidak pernah sekalipun aku membayangkan akan berurusan dengan pembunuhan. Memang aku pernah membayangkan tentang pembunuhan. Tapi tanpa aku terlibat di dalamnya, tentu saja.
Aku seperti masuk ke dunia dalam novel-novel kriminal yang biasa kubaca. Apa yang harus kuperbuat sekarang?

9 Januari 2005, 23.10
Barusan Irvine kirim sms. Ia minta maaf sudah melibatkanku dalam masalah ini. Aku membalas bahwa sudah seharusnya aku terlibat. Anya itu kan sahabatku? Irvine bilang, ia tidak tahu mengapa dirinya tertarik membantu membongkar misteri kematian Anya. Aku bilang, itu bagus apalagi dialah yang mula-mula berhasil menemukan racun dalam obat Anya, bukannya polisi atau detektif. Lalu Irvine menyudahi sms dengan ucapan selamat tidur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *