Nina’s Diary 011005

10 Januari 2005, di kantor, jam istirahat, 12.17
Aku ingin tahu sekali perkembangan kasus Anya. Tapi dari tadi kucoba menghubungi ortu Anya, tidak berhasil. HP mereka bahkan tidak dinyalakan. Aku coba hubungi Ken, berhasil nyambung tapi tidak diangkat sama sekali. HP Irvine malah out of area.
Ups, si Lana bilang ada telepon untukku.

10 Januari 2005, kantor, masih istirahat, 12.45
Ternyata dari Ken. Katanya ia ingin bicara denganku. Pulang kantor nanti Jazz akan menjemputku. Aduh, rasanya ingin cepat-cepat pulang. Aku betul-betul ingin tahu apa yang ingin dibicarakan Ken denganku. Pasti masalah Anya. Tapi apa yang harus kukatakan kalau Ken bertanya tentang pendapatku? Apa aku harus cerita tentang Irvine juga? Perasaanku mengatakan jangan.

10 Januari 2005, 23.00
Rasanya belakangan ini aku sungguh-sungguh terbebani baik secara fisik maupun pikiran. Tidurku nggak senyenyak dulu lagi. Aduh Anya, kenapa kamu harus meninggal? Padahal aku masih sangat membutuhkan Anya.
Temanku memang banyak. Terutama teman-teman kantor. Tapi nggak ada yang seperti Anya. Dengan Anya, aku bisa bicara bebas tanpa beban. Kadang aku merasa Anya diciptakan untuk menemaniku. Sekarang aku merasa satu bagian dari kehidupanku ada yang menghilang.
Jazz tidak banyak berbicara padaku tadi, sewaktu menjemputku. Padahal jalanan macet sehingga kami punya waktu setengah jam lebih banyak dari biasanya. Setahuku asisten Ken ini memang pendiam. Tapi tersiksa juga kalau dua orang saling diam-diaman, padahal berada dalam satu mobil.
Nggak heran kalau aku senang sekali waktu bertemu dengan Ken. Entah bagaimana prosesnya, aku merasa kalau aku dan Ken bisa nyambung kalau berbicara. Bahkan kalau kami sedang diam-diaman juga, aku nggak merasakan sesuatu yang canggung seperti kalau aku diam-diaman dengan Jazz tadi.
Ken bercerita padaku detil kejadian kemarin pagi. Sebagian besar aku sudah tahu, dari Irvine. Aku tetap bungkam bahwa Irvine yang melaporkan kejadian itu ke polisi. Biar Irvine yang bicara pada Ken sendiri, kalau mau. Yang aku belum tahu, ternyata polisi memutuskan akan mengautopsi jenazah Anya.
Berikut ini pertanyaan-pertanyaan Ken yang disharingkan ke aku. Ia tidak berharap aku menjawabnya, katanya, karena Ken percaya aku nggak tahu apa-apa tentang masalah ini. Aku jadi merasa agak bersalah. Oke, ini nih pertanyaannya:
1. Siapa yang melaporkan ke polisi bahwa Anya mati keracunan, atau, siapa yang telah berani-berani menyelidiki kematian Anya tanpa sepengetahuan suaminya sendiri? – Aku pura-pura ikut bingung untuk pertanyaan yang satu ini, sambil bertanya-tanya apakah Ken akan menghajar Irvine kalau tahu yang sebenarnya. Kemungkinan besar sih, iya.
2. Apa yang harus dilakukan Ken, mengijinkan atau tidak mengijinkan polisi mengautopsi jenazah Anya, karena sama seperti aku, Ken juga menduga ada benarnya pernyataan bahwa Anya diracun. Tapi ia juga tidak tega membayangkan jenazah Anya akan diotak-atik seperti itu. – Aku tidak berkomentar dengan bijaksana atas hal yang satu ini. Kalau kalian mendengar kalimat yang aku ucapkan pada Ken, sepertinya aku ini berpendapat di antara ‘mengijinkan dan tidak’. Aku sendiri bingung. Bagaimanapun, Anya sahabat terbaikku.
3. Apa yang harus dilakukan Ken, apabila ternyata penelitian membuktikan bahwa Anya memang mati keracunan. Ken berterus terang bahwa ia tidak suka jika Anya mati keracunan, karena dengan begitu hampir bisa dipastikan Anya mati dibunuh. Jika Anya mati dibunuh, Ken merasa dialah yang mula-mula akan dicurigai membunuh. – Sebenarnya, aku juga merasa begitu. Aku merasa agak kasihan pada Ken. Aku sama sekali nggak percaya Ken yang membunuh Anya.

Setelah puas mengungkapkan perasaannya yang jelas-jelas sedang kacau, Ken mengajakku makan malam. Atas usulku kami makan malam di sebuah kafe kecil di dekat apartemen yang suasananya sangat sepi. Tidak banyak pengunjungnya. Musik ballad mengalun sendu, cenderung sedih. Meskipun makanan di sini lumayan enak, aku agak menyesali pilihanku karena Ken jadi terlihat semakin murung. Jadi aku cepat-cepat menghabiskan makanku, lalu mendesak Ken agar cepat menghabiskan makanannya juga. Aku bilang ingin keluar dari tempat ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.45. Ken tidak mau langsung pulang. Katanya, ia tidak akan bisa tidur malam ini, jadi ia memintaku menemaninya sebentar. Aku menemaninya jalan-jalan di pinggir kolam renang apartemennya. Mungkin ada sekitar setengah jam aku menemani Ken dan keluh kesahnya. Kemudian Ken menelepon Jazz untuk mengantarku pulang. Ken bilang ia sangat berterima kasih padaku. Katanya, tindakanku itu sangat baik.
Baru dalam perjalanan pulang Jazz mengajakku ngobrol. Aku menikmati obrolan itu meskipun tanpa topik yang jelas. Agak heran juga melihat perubahan Jazz yang sangat cepat. Tidak sekalipun Jazz menyinggung masalah tuannya. Ia malah asyik menanyakan tentang diriku, pekerjaanku, bahkan ia melontarkan joke-joke lucu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *