Nina’s Diary 011505

15 Januari 2005, 21.20
Siang tadi Ken akhirnya menelepon. Kali ini ia tidak menyuruhku menemaninya lagi, tapi kami menghabiskan hampir satu jam istirahat untuk ngobrol di telepon. Kata Lana, Bu Tati (bosku) marah-marah tentang line telepon yang kukuasai. Tapi ternyata sampai jam pulang kantor ia tidak memanggilku sama sekali. Untunglah, besok aku harus lebih berhati-hati. Mungkin Ken harus kusuruh meneleponku via HP. Memang mahal sih, tapi dia kan kaya. Lagian yang butuh meneleponku kan si Ken.
Irvine juga meneleponku (baru saja, lewat HP – rasanya sih aku sudah memberitahunya nomor telepon rumahku supaya biaya lebih murah, tapi entah kenapa dia tidak pernah memakainya). Katanya, ia merasa buntu tentang kasus Anya. Polisi telah membuktikan bahwa obat itu memang mengandung racun. Tapi tetap saja tidak ada bukti jelas tentang siapa yang melakukannya. Hanya ada sidik jari Anya di botol obat itu. Bahkan polisi juga berhasil menemukan diary Anya, yang dari situ didapatkan fakta bahwa Anya menderita depresi berat menjelang hari-hari kematiannya. Bahkan Anya sempat menyebut-nyebut tentang keinginannya bunuh diri. Ken sudah diperiksa kemarin lusa dari pagi hingga sore, dan kata polisi, alibi Ken sangat kuat sehingga ia dibebaskan dari kecurigaan. Kesimpulan akhir adalah Anya bunuh diri dengan cara meracuni dirinya sendiri.
Irvine berulang kali bilang bahwa ia tidak percaya sedikitpun bahwa Anya bunuh diri. Ia minta pendapatku, tapi terus terang aku tidak punya pendapat.
“Apa benar Anya depresi menjelang hari-hari ia meninggal?” tanya Irvine, masih lewat HP.
Aku cepat-cepat menyuruhnya menelepon rumahku saja.
“Bukannya dari tadi.” ujar Irvine.
Aku tertawa sambil minta maaf.
“Nggak tahu, Ir,” kataku setelah kami berganti ke telepon rumah, “biasanya kalau ada apa-apa Anya pasti cerita ke aku. Jadi aku pasti tahu kalau Anya sedang ada masalah yang membuatnya depresi. Tapi belakangan ini…”
“Ya?” Irvine menunggu.
“… aku merasa Anya nggak kayak biasanya.”
“Seperti apa misalnya?”
“Seperti apa ya? Aku juga bingung. Sebetulnya Anya itu bukan orang pendiam. Ia tetap ngobrol santai denganku, hanya saja… memang sedikit aneh, sih. Sepertinya ada sesuatu yang dirahasiakannya dariku. Di hari terakhir itu… Anya banyak minum bir. Padahal aku tahu pasti bahwa Anya nggak suka minum bir.”
“Ya, itu aneh kan?”
“Aneh sekali. Aduh, kok waktu itu aku nggak menyadarinya ya… mungkin sebenarnya aku bisa mencegah Anya supaya tidak bunuh diri…”
Irvine cepat-cepat memotong ucapanku. “Jangan begitu! Anya nggak bunuh diri kok.”
Waktu aku tetap bersikeras menyalahkan diriku sendiri, Irvine kedengarannya jadi agak marah. Nadanya lumayan keras sehingga aku langsung diam.
“Sori, Nin.” kata Irvine kemudian. Percakapan kami berhenti sampai situ.
Aduh, rasanya akhir-akhir ini aku capeeek sekali. Aku ingin masalah Anya cepat berakhir. Ya, siapa tahu besok polisi berhasil mengungkap kasus ini, dan aku bisa kembali melanjutkan kehidupanku yang normal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *