Pelajaran Tentang Alison

Cerita ini saya tulis 10 September 1998, merupakan salah satu cerita pendek pertama, dan meskipun sederhana, adalah favorit saya.

Hai, friends! Kenalkan, namaku David Grounds. Tapi aku lebih dikenal dengan nama Lou saja. Jika kau bertanya siapa namaku yang selengkap-lengkapnya pun tetap akan kujawab satu kata itu, Lou. Bahkan sebagian temanku malah nggak kenal siapa itu David Grounds meskipun aku berada di depan hidung mereka. Tapi jika kau bertanya tentang Lou, nah, itu sih lain lagi.
Aku punya dua kakak, satu kakak kandung, namanya Allen. Satunya lagi adalah kakak sepupuku, tapi sudah kuanggap kakak sendiri. Yang terakhir inilah yang lebih mirip denganku daripada aku dengan Allen. Ya sifatnya, ya wajahnya.
Yang mirip denganku itu, Luke namanya. Ia benar-benar menyenangkan. Kami bisa jadi teman diskusi yang hebat, tapi sekaligus partner duel yang seru. Pernah suatu hari, waktu masih berumur lima tahun dan Luke lima setengah tahun, kami bertengkar. Kami saling memelototin dengan tampang galak. Aku pegang pistol-pistolan berisi air dan Luke pegang sendok beneran (karena nggak menemukan pisau mainan yang biasanya digunakan untuk memotong lilin mainan). Tiba-tiba Allen tertawa terbahak-bahak dan keras sekali. Aku kaget, Luke juga. Tapi kemudian kami berdua ikutan ketawa seperti Allen. Rupanya, demikianlah cara Allen menghentikan pertengkaran lebih lanjut dan konyol itu.
Pendeknya, aku sadar bahwa mereka semua menyayangi dan memanjakanku. Aku tumbuh dalam keluarga yang sangat menyenangkan dan takkan kulupakan seumur hidup. Tapi jeleknya aku malah tumbuh sebagai cowok bandel dengan segala kenakalan dan tipu daya. Jadi sih bukan karena kurang perhatian, tapi cuma untuk menyalurkan bakat semata.
Di sekolah, Lou-lah juaranya dalam segala bentuk kenakalan. Tiap hari ada saja kelakuanku yang aneh-aneh. Entah kenapa aku suka melakukannya. Teman-temanku yang cowok juga menyukaiku. Mereka bilang, hari-hari di sekolah jadi tidak membosankan lagi.
Aku sudah kenyang keluar masuk ruang Bimbingan Konseling dan kulakukan semua hukuman atas kenakalanku dengan senang hati. Bahkan aku pernah menjalani hukuman yang bukan karena ulahku (ulah salah seorang temanku) tapi tetap kukerjakan juga.
Suatu hari aku hampir dikeluarkan karena keusilan yang sudah kelewat batas. Sampai di kantor kepsek aku memasang wajah memelas dan penuh penyesalan. Manjur juga. Mereka tidak jadi mengeluarkanku. Hukuman itu diganti skors satu minggu. Tapi meskipun demikian, bener deh, aku sangat menyesal karena ulahku itu.
Begitulah.
Dan kalian perlu tahu, bahwa sejak aku jatuh cinta (mati-matian) pada seorang cewek manis, Alison namanya, sikapku jadi sedikit berubah. Memang bukan bertambah baik. Tapi kalau dulu sasaran keisenganku adalah (kebanyakan) cewek-cewek secara adil dan merata, kini cukup satu saja. Alison.
Dulu sih aku paling sebal dan gondok kalo liat Alison. Soalnya cuma dia seorang yang paling berani terhadapku. Kalo kujailin ia selalu bisa membalas dengan tak kalah seru. Malah pernah aku dibuatnya malu setengah mati sampai-sampai aku nggak berani muncul di sekolah, di hadapan teman-temanku yang lain. Tapi seiring dengan bertambahnya waktu setiap gerak-gerik dan bayang-bayang Alison selalu menghantuiku. Dan akhirnya kusadari bahwa aku telah jatuh cinta padanya.
Di sekolah, tak ada yang lebih menarik daripada melihat sosok Alison. Sayang ia terlalu cuek dan sombong, terutama terhadapku. Padahal tidak dengan cowok-cowok lain. Pernah kulihat ia ngobrol sambil tertawa ceria saat bersama Rudi, ketua tim basket sekolah kami. Itu pemandangan yang sangat menyebalkan.
Jarang Alison mau peduli terhadapku. Karena itu aku berusaha menarik perhatiannya – dengan segala cara.
Pelajaran baru saja dimulai. Pak Fisika sedang ribut-ribut karena penghapus papan tulis yang raib entah ke mana. Yang jelas sih bukan aku yang menyembunyikan.
“Oh, itu. Kemarin dimakan Alison, Pak. Soalnya dia kelaparan banget abis olah raga…”
Aku nggak peduli waktu Pak Fisika yang terkenal galak dan nggak suka main-main itu menyuruhku berdiri di muka kelas. Kulihat wajah Alison merah padam. Marah pasti ia. Yang penting, kini perhatiannya beralih padaku. Ada tiga kali aku mengedipkan sebelah mata saat ia mencuri pandang (entah sengaja atau tidak) ke arahku. Meskipun dibalas dengan tatapan galak, aku sangat menikmatinya.
Berminggu-minggu keadaan seperti itu terus berlanjut. Aku tetap nggak berani menyatakan cinta. Iya sih, meskipun kelihatannya pemberani, terus terang aku sangat-sangat pengecut dalam hal yang satu ini. Aku takut ditolak.
Karena itu, satu-satunya jalan adalah aku harus menunggu sampai Alison naksir aku. Tapi bagaimana cara mengetahuinya?
“Gini aja, Lou.” saran Luke waktu kuceritakan tentang Alison. “Kamu harus tahu apakah Alison cemburu jika melihatmu berdekatan dengan cewek lain. Kamu tahu kan maksudku?”
Tentu saja tahu. Aku nggak tolol, kan?
Kucoba saran Luke.
Besoknya waktu pelajaran olah raga aku mulai action. Kudekati Mitha (salah satu cewek tercantik dan populer di sekolah). Kurayu-rayu dia. Tentu saja sambil ngelirik apakah Alison melihatnya. Dan betul, Alison memang melihatku, tapi hanya sepintas. Sedetik saja, nggak lebih. Wajahnya juga biasa-biasa saja. Cuek.
Aku masih ada taktik lain. Kerja sama dengan Dennis, sahabat terdekatku. Waktu istirahat, Dennis bicara keras-keras.
“Hei, Lou! Gimana kabarnya kecenganmu yang kueren banget itu? Siapa namanya? O ya, Sisca. Gimana sekarang? Udah jadian?”
Tentu saja itu hanya bohongan.
“Wah, hampir berhasil, Den. Kayaknya dia juga naksir aku. Kemarin waktu aku dolan ke rumahnya…”
Dan… sungguh! Alison tetap cuek bebek!
Berbagai cara sudah kulakukan agar membuat Alison cemburu. Tapi ia malah adem-ayem saja. Seolah nggak tahu kalau aku naksir setengah mati sama dia.
OK! Aku menyerah. Kuhampiri Alison. Dengan jantung yang berdebar keras sekali aku memberanikan diri. Pasti penampilanku jelek sekali karena gugup. Tapi aku sudah tidak tahan lagi.
“Alison… besok malam kita harus nonton!”
“Eh? Nggak salah denger nih? Kita harus nonton? Harus?”
“Kamu nggak salah denger.” kataku agak pelan karena gugup.
Alison memandangku dan dengan wajah tak berdosa bilang, “Lho? Denger-denger besok malam kamu mau kencan sama Sisca? Habis itu sama siapa itu tetangga barumu? O iya, Mia. Lalu sama calon cewekmu yang…”
Aku kaget dan terus terang shock dengan jawaban tak disangka-sangka itu. “Mereka itu… anu… sebetulnya…” aku bingung harus ngomong apa.
Aku berubah jadi pendiam sejak saat itu. Sampai teman-temanku pada heran semua. Katanya, mereka merasa kehilangan atas perubahan sikapku karena aku nggak jahil dan bandel lagi kayak dulu. Ah, apa sih artinya kehilangan mereka atas keceriaanku dibanding kehilanganku atas Alison? Jelas, aku menderita sekali.
Untuk pertama kalinya aku sadar. Bahwa dengan caraku yang bodoh, bodoh dan sangat bodoh itu, bukannya Alison jadi suka padaku, malah makin memperburuk keadaan. Cara itu betul-betul nggak berguna. Aku sedih sekali karena Alison kini mencapku sebagai cowok play boy. Padahal bukan itu maksudku. Aku bukan cowok seperti itu. Aku hanya menyukai Alison seorang. Sungguh!
Bagaimana ini?

T a m a t, 10 September 1998

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *