Vania

Kalau ada lomba cewek paling menyebalkan, pasti Vanialah yang jadi pemenang. Anak yang satu itu, selain judesnya minta ampun, juga suka membuat anak lain jengkel. Meski cantik, berani taruhan deh, nggak ada yang naksir doi.
Kalimat terakhir itu terutama sekali dibenarkan oleh Andi yang (ternyata) pernah naksir Vania, dan langsung ditolak mentah-mentah dengan sikap judes dan angkuh. Patah hati berat si Andi. Padahal cowok itu sudah memenuhi kriteria cowok idaman: keren, ganteng, cakep, pintar, kaya, atletis, baik, penuh perhatian, pintar nyanyi, jago gitar. Minusnya… belum ketahuan, sih.
Setelah kejadian memalukan itu (Vania mendengus jijik ketika Andi tersenyum manis di hadapannya), bukan hanya para cowok yang merasa ‘gimana… gitu’ terhadap Vania. Para ceweknya juga. Apalagi setelah mereka tau kalau Andi, jagoan mereka, ditolak mentah-mentah sama Tania. Tambah berlipat-lipat kadar kesebalan mereka.
“Huh, apa sih maunya si sok itu? Dikasih cowok yang udah sempurna gitu nggak mau.” komentar seorang cewek.
“Padahal aku aja udah ngasih diskon-diskon segala, Andinya yang nggak mau.” komentar cewek yang lain.
“Mungkin si judes itu maunya sama yang tipenya kebalikan berat dengan Andi… kayak… “ mata cewek yang pertama menyapu seluruh ruang kelas, dan langsung tertumbuk pada sesosok cowok yang terkenal paling ‘gila dan aneh’ di sekolah.
“Maksudmu…” mata cewek yang kedua mengikuti pandangan temannya. “Brad Gila?”
“Ya. Dia.”

Nah, mereka ngrasani aku lagi, pikirku saat melewati bangku kedua cewek yang sedang ngrumpi tadi, sehingga sempat kudengarkan kalimat ‘Brad Gila’. Cuek aja deh, aku kan udah biasa digosipin.
Waktu melewati bangku Brad, cowok itu entah sengaja atau tidak mengulurkan kakinya dan hampir membuatku hampir tersandung. Aku langsung mendelik marah.
“Bahaya, tau! Dasar gila!”
Brad malah senyum-senyum. Huh, dikira manis apa senyumannya?
“Kalau kau tersandung, tak akan terjatuh, Nona. Karena aku akan menopangmu.”
Aku semakin melotot marah. Berani betul anak ini. Selama ini yang berhasil membuatku sangat ‘mengurut dada’ adalah si sombong Andi. Bayangkan, dengan angkuhnya ia ngomong kalo naksir aku. Di depan temen-temen sekelas, lagi. Huh, dikiranya aku nggak tau kalo itu cuma permainannya saja? Aku sudah sering dengar tentang masalah taruhan untuk menjatuhkan seorang cewek? Aku nggak akan ketipu oleh cerita-cerita konyol macam itu.

Hmm, itu tuh cewek yang sering bikin heboh di dunia ini. Dari penampilan luarnya sih nggak kelihatan kalo tu cewek ternyata tipe judes, galak dan sebagainya yang jelek-jelek. Bodinya tinggi kurus, wajahnya mungil dan cantik kayak boneka barbie…
Eh, doi mau lewat sini rupanya. Begini saja deh.
“Bahaya, tau! Dasar gila!” mata cewek itu melotot marah. Aku tersenyum. Tapi ia malah tambah marah.
“Kalau kau tersandung, tak akan terjatuh, Nona. Karena aku akan menopangmu.” kataku santai.
Cewek itu, Vania namanya. Hmm, aku jadi sering memperhatikannya akhir-akhir ini. Terutama setelah kejadian pengumuman nekat Andi di depan kelas kalo ia naksir Vania. Salahnya Andi sendiri tuh. Udah tau Vania orangnya kayak gitu, masih nekat juga.
Eh, sebentar, siapa tuh cewek manis yang barusan masuk ke kelas ini? Apa nggak salah kelas doi? Mungkin anak baru.
Lima menit setelah bel masuk berbunyi, Mr. X, wali kelas sekaligus guru bahasa inggris, memasuki ruang kelas.
“Hari ini kelas kita ketambahan satu murid baru. Kalian sudah kenalan?” kata Mr. X setelah ber’good morning’ ria.
“Beluuuum!” kami kompak menjawab, sambil menoleh ke arah cewek manis tadi.
“Kalo gitu kalian maju satu-persatu memperkenalkan diri. Ayo mulai dari nomor absen satu.”
“Huuu!!! Nggak efektif banget bapak ini!” protes sebagian murid.
“Iya, nih. Mestinya dia yang maju.” kataku sambil menunjuk si cewek baru.
Mr. X tersenyum. Dengan malu-malu si cewek baru maju ke depan kelas dan memperkenalkan diri.
“Nama saya Fanny Amanda. Pindahan dari SMU ABC.” katanya kalem.
“Alamat… alamat!” teriak sebagian anak cowok.
“Alamat saya di jalan bla… bla… bla…”
“Nomor telpon! Nomor telpon!”
Amanda diam saja sambil senyum-senyum manis.
“Pacar! Pacar!”
Amanda menoleh ke Mr. X, minta perlindungan.
“Kalo diem aja berarti belum punya. Ndaftar boleh?” goda kami lagi.
Akhirnya, setelah penggojlogan yang biasa saja (itu sih belum terlalu heboh), Amanda diperbolehkan duduk. Tapi karena bangkunya di belakang sendirian, sedangkan Vania juga duduk sendiri, mereka pun didudukkan sebangku.
Hari-hari berlalu. Amanda, biar orangnya malu-malu begitu, tapi cukup akrab dengan kami teman sekelasnya. Tingkahnya nggak over meskipun doi sangat disukai para cowok (terutama). Di kalangan cewek pun, tanpa diduga, Amanda sangat diterima. Padahal mulanya aku sudah memprediksikan kalau para cewek akan cemburu pada Amanda karena kepopulerannya di kalangan cowok. Ternyata dugaanku salah. Baguslah kalau begitu.
O ya, sudah lama aku nggak iseng.

Jam kelima nanti ada tes sejarah, tapi aku belum siap sama sekali. Bukan salahku kalau pelajaran sejarah itu ternyata begitu membosankan. Bukan salahku juga kalau semalam aku nggak memegang buku sama sekali. Nggak minat, sih.
Lewat kaca rautan pensil aku memandangi kedua mataku. Ada lingkaran hitam di sekitar mataku.
Papa dan mama akan bercerai minggu depan, dan aku ingin hari itu segera berlalu.
Mr. X mengakhiri materi pelajaran hari ini yang sama sekali tidak kumengerti. Membahas tentang apa saja aku tidak tahu.
“Vania, pe-ernya tadi halaman berapa?” pertanyaan Amanda mengagetkanku. Aku hampir marah padanya, tapi kutahan.
“Nggak tau. Aku nggak ndengerin.” jawabku ketus. “Lain kali jangan ngagetin.”
Amanda memandangku heran. “Sori kalo aku ngagetin.” katanya.
Aku diam saja.
“Hari ini pelajaran matematika kosong!!! Hore!!!” Andi yang baru saja dari kantor guru membawa berita itu.
“Apa? Masa? Tapi… Hore juga!!!” teriak seorang anak.
“Kenapa kosong?” tanya anak lain.
“Rupanya Mr. M sudah sadar kalo matematika itu tidak berguna!” komentar Brad. Beberapa anak cewek tertawa cekikikan.
“Matematik itu berguna banget, tolol! Apa jadinya dunia ini tanpa matematika?” kata Andi.
“Nggak ada kalkulator, nggak ada zipoa, nggak ada kalender…” jawab Brad. “Betul juga katamu. Kalo gitu, mari kita belajar matematika sendiri tanpa Mr. M!!!”
Para cewek cekikikan lagi (kecuali aku).
“Mending belajar sejarah, deh. Nanti kan ulangan.” usul seorang anak rajin, yang disambut hangat oleh beberapa anak rajin lainnya.
Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk tidur-tiduran sebentar. Ngantuk banget, sih. Kurebahkan kepalaku di meja bangku. Amanda pindah ke bangku paling belakang, menemani Lusi yang sedang belajar sejarah.
Aku mimpi tentang Dimitri, cowok kartun dalam Anastasia. Dalam mimpi Dimitri naksir aku, dan aku juga naksir doi. Dimitri bilang kalo Anastasia itu cuma kekasihnya dalam kartun, dan akulah yang ia sukai dalam dunia nyata (atau dunia mimpi).
“Nanti datang ya ke pesta dansa, denganku. Tapi rambutmu harus dikeriting dulu.”
Aku dibawa ke salon dan sesosok makhluk yang mirip kepitingnya Little Mermaid mengeriting rambutku dengan capitnya.
Lalu aku terbangun dan mendapatkan Brad dengan senyum jeleknya berdiri di depanku.
“Nyenyak tidurnya? Ngomong-ngomong, kamu tambah cantik lho.”
Apa sih maksudnya? Sejak SMP kami selalu sekelas, belum pernah dia berkata seperti itu padaku.
Eh, tunggu dulu. Rasanya ada sesuatu di rambutku. Aku merabanya, dan… ih! Cicak!
Aku menjerit sekuat-kuatnya. Binatang menjijikkan itu kulempar jauh-jauh. Aku langsung berlari ke kamar mandi, diikuti tampang heran seisi kelas. Beberapa yang mengetahui kejadian itu malah tertawa. Bagiku itu tawa menghina.
Di wastafel kusiram rambutku dengan air sebanyak-banyaknya. Nggak ada ampun bagi Brad Gila. Sungguh, anak yang berani mati.
Aku harus merancang balas dendam untuknya.

“Kamu apain dia?” tanya Andi dengan tampang full heran.
Aku tersenyum penuh arti.
“Berani juga kamu membuat masalah super gede dengan si Angkuh itu.” kata Andi lagi. “Hati-hati, lho.”
Hati-hati? Tentu saja. Apalagi dengan anak yang dianggap dangerous seperti Vania.
Vania kembali dengan raut muka yang sulit didefinisikan. Waktu melewati bangkuku, ia berhenti untuk beberapa detik, memandangku dengan tatapan seribu arti. Yang jelas sih bukan tatapan orang yang sedang jatuh cinta.
Saat-saat menegangkan itu kumanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Kapan lagi bisa puas menikmati wajah Vania kalau bukan sekarang ini? Biasanya sih, kepergok sedang menatapnya saja Vania sudah marah-marah.
Aku tau, Vania benar-benar marah padaku. Sudah jadi rahasia umum kalau ia sangat benci pada cicak. Meskipun cicak mainan karet seperti tadi.
Vania, kalau marah, nggak mau ngomong sama sekali.
Besoknya, besok, dan besok-besoknya lagi, Vania sama sekali mendiamkanku. Biasanya sih kalau kami secara tak sengaja bertatapan mata, ia masih mau merespon senyumanku dengan ‘membuang muka’. Itu jauh lebih baik daripada sekarang ini, Vania tak menganggapku ada.
“Van, kamu koq sekarang pendiam sih? Ngomong dong.” bujukku waktu jam istirahat. Kebetulan di kelas cuma ada kami berdua karena yang lainnya pada nonton Amanda latihan menari. Bukannya aku tak suka melihat tarian Amanda, tapi anak satu ini lebih menarik perhatianku. Kalau Vania, kurasa tak satupun di dunia ini yang membuatnya tertarik (termasuk cowok, kali!).
“Ngomong apa aja. Ngata-ngatain aku juga boleh.” kataku lagi. Dan… jangankan menoleh, perubahan muka pun tak ia tampakkan. Hebat juga akting tuh anak, menganggapku sebagai si hampa udara.
“Aku minta maaf deh, sama kejadian yang dulu itu. Bener, aku nyesel. Demi cicak-cicakan karet.”
Vania tetap diam seribu bahasa.
Aku jadi gemas, ingin sekali menjitaknya atau mengkitik-kitik atau apalah yang bisa membuatnya merespon.

Si Gila itu! Aku bener-bener ingin membunuhnya!
Tentu bukan membunuh dalam arti sebenarnya. Ada cara yang lebih ampuh untuk membuatnya mengerti kalau aku nggak bisa dipermainkan begitu saja.
Tapi apa?
Tengah malam pukul dua belas kurang dua menit, kutelpon HP-nya. Aku ingin menerornya.
“Aaalllooow?” suara bernada ‘sangat ngantuk’ terdengar dari seberang.
Aku sudah hampir memakinya ketika ia berkata,
“Vania? Ngapain telpon? Kangen ya?” suara itu jadi nggak ngantuk lagi. Aku kaget. Astaga, lupa. Mestinya kutelpon dia lewat HP papa saja. Nomor HP-ku kan ada di buku kelas.
“Aku… enak saja! Menyebalkan!” kututup dan kumatikan HP dengan paksa. Malam itu aku nggak bisa tidur saking marahnya.

Ngapain Vania telpon aku? Kucoba menghubungi HP-nya, tapi rupanya Vania mematikannya.
Aku jadi nggak bisa tidur. Heran, aku jadi kangeeen banget sama cewek itu. Aneh, ya?
Hari-hari berlalu dengan menyebalkan. Vania masih menganggapku si hampa udara, dan aku cuma sempat mengerjainya satu kali. Ini gara-gara aku stress pada kecuekannya. Suatu hari, habis pelajaran olah raga, seperti biasa Vania menggunakan waktu yang tersisa untuk tidur ayam. Aku mengendap di belakangnya, diikuti tatapan ngeri para teman cowok. Saat itu para cewek sedang berganti pakaian dan makan-makan di kantin. Di tanganku ada gunting.
Vania marah berat (aku nggak bisa menggambarkan kemarahannya dengan kata-kata yang lebih pas). Tapi ia tidak menangis meskipun beberapa puluh helai rambut indahnya telah berpindah ke genggamanku.
Untungnya, saat itu Andi nggak masuk sekolah. Asal tahu aja, Andi masih suka sama Vania.
Kisah rambut Vania yang setelah itu dipotong model shaggy, jadi pusat perhatian anak-anak sesekolahan selama waktu yang cukup panjang. Nggak berlebihan kalau kisah itu akan jadi legenda menarik di tahun-tahun mendatang. Hukuman yang kuperoleh tidak berarti apa-apa dibanding rasa senangku melihat Vania dengan rambut barunya. Ia semakin cantik saja.

Aku melangkah keluar dari salon itu dengan pikiran kosong, sampai-sampai hampir menabrak becak. Sudah dua puluh empat jam berselang sejak kejadian Si Gila dan guntingnya yang juga gila, dan aku sungguh tidak bisa melupakannya. Bagaimana mungkin anak itu jadi setega itu padaku? Ia sungguh berani… berani mati… atau bahkan lebih…
Rambutku sekarang baru, dan kurasa penampilanku sedikit banyak jadi berubah. Tapi tak ada yang peduli padaku. Terutama ibu. Ia cuek saja mengerjakan kertas kerjanya yang bertumpuk-tumpuk. Ayah? Sudah sebulan berselang ia tidak tinggal di rumah ini lagi. Sudah bercerai dengan ibu.
Jadi aku sendiri yang mengagumi penampilan baruku. Diikat ekor kuda begini, hmm. Boleh juga.
Pukul dua belas malam sampai setengah dua pagi aku nonton Herculesnya Disney di VCD. Aku membayangkan diriku sebagai Megara yang jahat. Tapi siapa Herculesnya? Jadi aku merancang sendiri ‘Hercules’ku dari potongan-potongan sifat dan tampang yang kusukai seperti Dimitrinya Anastasia, The Beast-nya Beauty, Aladdinnya Putri Jasmine…
Puzzle itu pun membentuk seseorang… si Brad Gila.
Nggak mungkin!!!

Tepat satu minggu setelahnya, ibu meninggal karena jantung. Kata dokter ia terlalu lelah. Kutatap jenazah ibu yang akan dikubur di samping makam kakek. Di sekelilingku teman-teman sekelas menghiburku. Aku diam seribu bahasa. Terbayang olehku ibu yang tak pernah menyayangiku. Tak pernah ada tangan yang menyentuhku dengan perasaan sayang.
Aku tak ingin mengingatnya lagi. Semua sudah berlalu.
Kusapukan pandangan ke sekeliling. Ayah tidak datang.
Keluarga macam apa ini?
Kurasakan pipiku basah oleh air mata.
Aku, Vania, sekarang benar-benar sendiri…

“Vania… Vania pingsan!”
“Aduh, kenapa? Tolong…”
Aku tersentak dari lamunanku. Cepat-cepat kuhampiri tubuh Vania yang lemas, dan kugendong ia.
“Bawa ke rumah itu, Brad. Pelan-pelan. Jangan sampai jatuh.”
Perlahan kubaringkan Vania ke sofa besar itu. Sambil menunggu dokter datang, aku menemani Vania, duduk di lantai di samping sofa.
“Ayah… ayah di mana? Ibu… ibu… di mana?” Vania mengigau. Aku memandang wajahnya yang tampak sangat menderita, berganti-ganti dengan wajah teman-teman yang ikut menemani.
“Aku ikut…” Vania menangis.
Kugenggam tangan Vania. Amanda maju mendekati, dan menggenggam tangan Vania yang satu lagi. Yang lain juga ikut mendekat. Ada yang membelai rambutnya, menyeka keringatnya, memegangi lengannya. Entah kenapa, saat itu segala kebencian mereka pada Vania menguap seketika. Yang ada hanya rasa kasihan dan sedih.
Panas Vania makin meningkat waktu dokter datang. Saat itu juga Vania dilarikan ke rumah sakit. Semalaman aku tidak bisa tidur. Aku ikut menunggui Vania di rumah sakit. Sungguh heran, tak satupun familinya datang untuk menengok Vania.
Tiga hari kemudian Vania sudah agak mendingan. Waktu melihatku, ia menangis. Kutunggu sampai tangisnya berhenti. Kugenggam tangannya, tapi Vania malah menangis lagi.
Besoknya kubawakan cicak-cicakan karet, dan Vania tertawa. Sungguh, seumur-umur baru kali ini aku melihatnya tertawa. Ingin pingsan rasanya, habis ia cantik sekali. Rasanya seperti ada di surga.
“Gimana rasanya?” tanyaku sambil mengantongi cicak karet itu.
“Nggak tau.” kata Vania. Tapi ia mengatakannya sambil tersenyum. Aku ikut tersenyum.
“Trims, ya. Kamu kan yang mengangkatku waktu aku pingsan?” kata Vania lagi.
Sungguh, aku seperti bukan sedang berhadapan dengan Vania. Ia tampak berbeda sekali dengan biasanya.

Saat ini aku sedang berhadapan dengan si Brad Gila.
Dan aku senang sekali. Terutama setelah apa yang ia lakukan padaku. Ini tak pernah terjadi sebelumnya. Seseorang memperhatikanku seperti itu. Aku jadi kangen, ingin cepat sembuh, kembali ke sekolah, dan menghadapi keusilan-keusilannya.
Aku senang.
Tapi juga takut.

Tahun ajaran baru. Aku mulai merasakan ada perubahan pada diriku. Aku sudah jarang marah-marah, mulai mau berbicara dengan Amanda dan beberapa teman lain, memperhatikan pelajaran, dan sedikit tertawa…
“Waduh, lengkap banget catatannya.” itu suara Brad yang tepat duduk di belakangku.
“Catatan siapa?” tanya Rico, teman sebangkunya.
Aku sendiri tetap ‘akur’ dengan teman sebangkuku yang dulu, Amanda. Sebetulnya sih tidak tepat bila disebut akur, karena kami masih sama-sama canggung.
“Luki, anak kelas B.” jawab Brad. “Aku kan nggak bawa catatan, makanya pinjam ke dia. Gila, dia itu cowok apa enggak sih, koq tulisannya bagus banget?”
Mr. B (guru biologi) memasuki ruang kelas. Seperti biasanya ia mulai melontarkan pertanyaan-pertanyaan dan memanggil nama salah seorang di antara kami untuk menjawabnya.
“Brandon,” nah, tuh. Si Brad kena giliran pertama. “Jawab pertanyaan saya tadi.”
Aku mendengar Brad gelagapan membuka lembar demi lembar catatannya.
“Pasti nggak mendengar pertanyaan saya, ya?” kata Mr. B lagi. “Dari tadi bapak perhatikan kamu koq ngelamun terus? Ngelamunin siapa? Cewek yang duduk di depanmu, ha?”
Aku kaget setengah mati. Kelas jadi ribut, menggoda Brad. Suit, suit! Begitu.
Untung Brad cepat menyelamatkan suasana.
“Mr… eh, Pak! Sebentar! Pertanyaannya tadi kenapa x bisa jadi z padahal begini begitu… ya, kan?”
Pasti si Brad membaca catatan anak kelas sebelah itu. Soalnya biasanya Mr. B selalu menanyakan pertanyaan yang sama dengan kelas lain, urut lagi!
“Kalo gitu jawabannya karena x merupakan bla… bla… bla.”
“Betul.” kata Mr. B singkat.
“Selamat deh, selamat!” ujar Brad pelan. Kubayangkan ia mengelus dada sambil berterima kasih sekali pada catatan pinjaman itu. Aku jadi geli.

Ngomong-ngomong, Mr. B ini koq tau kalo aku lagi ngelamunin Vania, sih? Membuat malu saja.
Waktu Mr. B sedang berpikir tentang pertanyaan selanjutnya, aku cepat-cepat mengangkat tangan kananku.
“Mr… eh, Pak,” Mr. B melihatku dengan tatapan curiga. “Pasti bapak mau menanyakan ini…” aku melihat catatan Luki dan membacanya. “Benar, kan? Saya bisa menjawabnya. Begini…” kubaca kalimat selanjutnya.
Mata Mr. B melotot. Percaya atau tidak, aku tidak dihukum sama sekali. Mr. B terdiam untuk beberapa detik, lalu tertawa keras, keras sekali. Mulanya teman sekelas yang tegang melihat kelancanganku, tertawa takut-takut. Tapi kemudian semua tertawa lepas.
Vania juga.
Waktu istirahat kudekati Vania.
“Hai,” sapaku.
Vania yang sedang mencatat entah apa, mengangkat muka.
“Apa!” tanya Vania datar.
Aku jadi lupa mau ngomong apa.
“Anu… pinjem penggaris, boleh?”
Vania memberikan penggaris Hello Kittynya padaku.
“Maksudku… pinjem bolpoin.”
Vania mengambil penggarisnya dari tanganku, dan memberikan bolpoinnya.
“Sori, sori. Maksudku…“ aku melayangkan pandang ke rambutnya yang diikat ekor kuda. “Pinjem… itu, jepitnya.”
Nah, sekarang Vania mulai nggak sabar. Dirampasnya bolpoinnya dari tanganku.
“Dasar gila!” ujarnya.
Aku segera menenangkannya.
“Begini. Maksudku… kamu mau nonton The Mummy?” tanyaku to the point. Kutatap mata Vania lekat-lekat. “Makasih, ya. Kamu baik deh. Kujemput nanti jam lima sore. OK?”
Vania langsung berdiri untuk melabrakku. Tapi aku sudah melarikan diri dari hadapannya.

Si gila itu benar-benar mau mengajakku kencan atau cuma mau ngerjain saja? Jam setengah empat aku nelpon Amanda. Rasanya Amanda surprise banget dengan ajakan nontonku. Dan ia langsung nelpon Eric, teman akrabnya, untuk ikut menemani.
Lalu aku nelpon Brad untuk bilang kalo aja tambahan dua orang untuk nonton. Brad bilang nggak pa-pa. Juga sewaktu aku bilang kalo lebih baik aku yang menjemputnya saja.
Pukul setengah enam aku, Amanda, dan Corollaku sudah parkir di depan rumah Brad. Agak lama juga kami menunggu munculnya Brad.
“Jangan-jangan dia lupa sama janjinya.” kata Amanda sambil melirik jam mobil.
“Jangan-jangan masih mandi.” kataku.
“Jangan-jangan masih dandan.” kata Amanda.
“Jangan-jangan waktu keluar masih pake baby doll.” kataku.
Amanda cekikikan. “Aduh, Van. Masa cowok pake baby doll.”
Aku ikut tertawa.
Waktu akhirnya Brad muncul, jarum jam sudah menunjukkan pukul enam kurang seperempat.
“Sori, ada kesalahan teknis.” alasan Brad. Kunci mobil kuserahkan pada Brad, dan kami meluncur ke apartemen Eric.
“Di lantai berapa dia?” tanya Brad.
“Sebelas.” jawab Amanda.
“Ditelpon aja, deh.” usulku.
Brad mengambil HP-nya. “Hei, Ric!” katanya, “Kami di sini, pas di bawah jendelamu. Cepat loncat ke luar!”
Sejak saat itu kami jadi akrab. Tepatnya aku, Amanda, Eric, dan Brad. Aku heran dengan kelakuanku yang dulu, yang suka menyakiti hati orang. Pasti buruk sekali. Aku bercerita tentang kehidupanku yang dulu, dan ketiga sahabatku mendengarkannya. Mereka tidak memberiku nasehat atau saran-saran. Aku tidak butuh itu. Aku lebih butuh pendengar.
Satu-persatu mereka juga bercerita tentang keluarganya masing-masing. Eric hampir sama denganku. Ayah ibunya tidak begitu dekat dengannya. Bedanya, Ericlah yang selalu berusaha mendekati mereka. Keluarga Brad dan Amanda sangat bahagia. Bedanya, Amanda anak tunggal sedangkan Brad punya dua kakak perempuan dan dua adik perempuan.
Brad selalu bercerita tentang ayah, ibu, dan keempat saudaranya. Ceritanya kocak-kocak. Amanda selalu iri setiap Brad habis menceritakan tentang mereka. Soalnya ia anak tunggal. Eric juga iri. Aku? Apalagi!
Suatu hari Brad mengundang kami makan malam di rumahnya.
Kedua adik Brad rupanya kembar, dan Brad selalu memanggil mereka dengan nama seenaknya.
“Hei, Oa sama Ai, sini! Gue kenalin sama temen-temen gue!”
“Koq Oa-Ai, sih?!” protes si kembar yang ternyata masih seusia anak kelas tiga SD.
“Habis siapa? Tulat-Tulit?”
“Kakaaak!!!”
Ternyata namanya Rachel dan Shannon. Mereka berdua persis sama.
Kedua kakak Brad sedang berangkat kerja di tempat masing-masing. Papa Brad sedang ke luar kota. Mama Brad sedang menyiapkan makan malam. Begitu melihat kami, mama Brad langsung menghentikan kesibukannya.
“Mam, ini temen-temen Brad. Ini Amanda, ini Vania, ini… Eric.”
Eric dan keluarga Brad sudah saling mengenal sejak Eric masih TK.
“Waaah!” mama Brad merangkul aku dan Amanda. “Lalu yang mana menantu mama?”
“Terserah, tinggal pilih Mam.” ujar Brad santai.
“Huuu,” olok Eric.
Sehabis makan malam yang sangat menyenangkan (Brad dan Eric bercanda terus selama makan, ditimpali kedua adik Brad), kami nonton teve. Lebih tepatnya sih, aku dan Amanda yang nonton telenovela, Brad dan Eric sibuk karaokean di kamarnya kakak tertuanya Brad, sedangkan Rachel, Shannon dan mama Brad pergi belanja.
“Gawat deh, seleranya telenovela.” celetuk Brad kala melihat kami asyik terpingkal-pingkal oleh telenovela itu. Rupanya ia sudah bosan karaokean.
“Bagus tau,” bela Amanda.
“Apa bagusnya? Mau ngomong I love you aja berbelit-belit banget.”
“Diem, ah.” kata Amanda lagi.
“Tamatnya aja udah bisa ketebak. Si itu pasti menikah sama si ini.”
“Brad, bisa diem nggak! Nanti aku kutuk kamu.” kataku.
“Apa?”
“Kamu bakalan menikah sama cewek yang suka telenovela, suka film kartun, nggak bisa masak…”
Brad tidak menyukai film kartun (meskipun dari Walt Disney) dan sangat memuja cewek yang pintar masak seperti mamanya.
“Apalagi?” tanya Brad.
“Suka makan puding susu…”
Brad benci puding susu.
“Apalagi?”
“Sudah, itu aja dulu.”
Brad menyilangkan kedua tangan di depan dadanya. Ia menghela nafas. “Kalo gitu itu kamu, dong.”
Aku kaget. Amanda dan Eric tertawa terpingkal-pingkal.
“Kamu kan doyan kartun, telenovela, puding susu…”
“Tapi aku bisa masak,”
“Masak air sama supermi, kan?”
“Dasar Brad gila!!!” kulemparkan bantal kursi ke arah Brad. Ia balas melempar. Amanda tak mau kalah. Jadilah kami main lempar-lemparan bantal, dengan Eric sebagai pom-pom boynya. Loncat sana-loncat sini. Rame banget.

Aku senang sekali melihat Vania yang baru.

t a m a t

2 comments Add yours
  1. aduh.. mbak Effi, panjang sekali tulisannya.. tapi kalau mau bikin novel bagus juga nih..

    cerita nya menarik, sehabis membaca cerita di atas rasanya saya mirip sama seseorang, si Brad.. 🙂

  2. CERPENYA UDAH BGUS KO,
    CUMA MENURUTKU AKHIRANYA AJA YANG KURANG, CERITANYA SEPERTI BELUM TAMAT ,MUNGKIN KALO DI AKHIRI DENGAN CERITA YANG AKHIRNYA BRAD JADIAN SAMA AMANDA MUNGKIN JADI LEBIH PLONG RASANYA KALO DI BACA,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *