You Are Not Alone

Wayne, seorang ABG yang masih duduk di bangku SMP, adalah anak yang istimewa. Ayahnya termasuk dalam sepuluh besar konglomerat di negara ini, sedangkan ibunya seorang desainer terkenal. Wayne sendiri tidak mempunyai saudara kandung, alias anak tunggal. Sejak kecil ia terbiasa dimanja. Apapun keinginannya pasti dituruti. Tapi sejak tiga tahun yang lalu terjadi perubahan besar dalam kehidupan keluarga itu. Karena jarang bertemu, ayahnya sibuk dengan perusahaan barunya di Taiwan, sedangkan ibunya sibuk mengurusi butik-butiknya yang tersebar di Amerika. Yang lebih parah, beberapa kali Wayne memergoki kedua orang tuanya, kalau kebetulan dua-duanya sedang berada di rumah, menyinggung-nyinggung tentang perceraian.
Disadari atau tidak, itu membawa dampak besar terhadap diri ABG berambut ikal itu.

Suasana kelas sangat mencekam, atau setidaknya begitulah yang dirasakan sebagian besar siswa saat Pak Fisika yang biasanya memang sudah galak, kali ini memperlihatkan raut wajah lebih galak lagi.
“SSIAPA YANG… BBERANI… MINUM… KOPI SAYAAAA?!!!”
Hampir semua siswa menundukkan kepala. Sebagian karena takut, sebagian karena geli meskipun masih bercampur rasa takut. Sebenarnya kalau dilihat dari segi positifnya, kejadian itu sungguh lucu. Banyak siswa merasa sebal terhadap Pak Fisika, saking galaknya. Dan siapapun yang berani meminum kopi yang memang disediakan untuk guru yang sedang mengajar itu, secara tidak langsung membuat beberapa siswa senang karena ada yang berani membalas dendam.
“Kalau tidak ada yang mengakuuuuu…”
Pak Fisika menghentikan kalimatnya hingga beberapa puluh detik. Rupanya ia sengaja begitu agar membuat suasana semakin mencekam. Dan rupanya ia berhasil.
“… akan saya periksa satu-persatu bau mulut kalian!”
Para siswa tersentak. Gila, guru yang satu ini. Masa sampai begitu hanya karena kecurian teh?
Begitu mendengar kalimat terakhir Pak Fisika, Wayne yang saat itu duduk di bangku nomor dua dari belakang, cepat-cepat mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Rupanya bekal makanan. Begitu Pak Fisika mulai memeriksa siswa yang duduk di bangku depan, Wayne langsung membagi-bagikan isi bekalnya. “Makan ini, cepat!”
Toro yang pertama kali ditawarin, membelalakkan mata. “Apa? Pete?” bisiknya. Tapi tanpa pikir panjang lagi dikunyahnya pete itu.
Wayne sendiri membagi-bagikan makanannya ke beberapa anak cowok yang duduk di bangku paling belakang. Beberapa anak menerimanya dan langsung mengunyahnya tanpa suara. Wayne sendiri memakannya beberapa. Selain memang doyan, ia merasa harus mempermainkan guru yang satu ini.
Tiba giliran Pak Fisika memeriksa bau mulut Toro. Pak Fisika agak kaget ketika mencium bau tak sedap, tapi tampaknya ia tak begitu mempermasalahkannya. Tiba giliran Wayne yang makan paling banyak, Pak Fisika langsung shock dan muntah-muntah!

Sehari setelah kejadian itu, Wayne tidak mengikuti semua pelajaran. Rupanya dia memutuskan untuk mengaku bahwa dialah yang minum kopi guru dan sengaja makan pete untuk mempermainkan Pak Fisika. Jadi seharian ini ia harus berada di ruang hukuman.
Wayne sudah terbiasa dikirim ke ruang hukuman. Bisa dibilang perasaan takutnya sudah mati, jadi dia tidak merasa gugup lagi jika berada di ruang itu. Segala jenis bentuk hukuman pernah dijalaninya. Wayne menghitung dalam hati, berapa kali ia masuk ke ruang ini. Sepuluh kali? Lebih, pasti. Yang membuatnya sedih, sudah berkali-kali surat peringatan dialamatkan ke orang tuanya. Tapi orang tuanya hanya menanggapinya biasa saja. Mereka berpendapat, kenakalan Wayne itu sudah sewajarnya.
Jadi gagal. Wayne mengerjakan hukumannya dengan tidak bersemangat. Tujuannya gagal total, yaitu untuk membuat kedua orang tuanya menjadi peduli padanya, dan membatalkan perceraian itu. Tidak bisa begini terus, karena lama-lama ia capek juga menjalani hukuman-hukumannya yang meskipun tidak begitu berat akan tetapi sangat melelahkan.
“OK!” pikirnya, “Aku harus membuat diriku dikeluarkan dari sekolah. Tidak mungkin ayah-ibu tidak peduli padaku lagi.”
“KALAU KAMU TIDAK JUGA MENGUBAH SIKAP DAN TINGKAH LAKUMU, LUNA, SAYA YAKIN KAU AKAN SEGERA DIKELUARKAN DARI SEKOLAH!”
Wayne tersentak kaget mendengar kalimat yang diucapkan dengan amat keras itu. Sesaat ia mengira ucapan Ibu Wakil Kepsek itu ditujukan kepada dirinya. Tapi ketika Ibu Wakil Kepsek itu memasuki kelas diiringi seorang anak perempuan yang bertubuh tinggi kurus, Hayhay menjadi yakin bahwa bukan ia yang dimaksud. Anak itu, pasti Luna namanya, mengambil tempat dua baris di depan Wayne. Agak lama Ibu Wakil Kepsek menceramahi mereka berdua, Wayne dan Luna, yang mereka dengarkan dengan wajah acuh tak acuh. Setelah memberi hukuman (salin seluruh isi buku biografi Helen Keller yang lumayan tebal), Ibu Wakil Kepsek meninggalkan mereka berdua.
Tergesa-gesa Wayne mengerjakan hukumannya. Ia benci menulis, jadi harus secepatnya pekerjaan ini diselesaikan. Baru dua halaman diselesaikan, Luna menghampiri Wayne. Wayne menghentikan pekerjaannya untuk membalas tatapan Luna.
“Hei, anak kelas dua! Ngapain kamu nurutin Nenek Sihir itu? Mending pulang!” dengan raut wajah sinis Luna mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke buku tulis Wayne. “Pekerjaan SIA-SIA!”
Luna mengambil tasnya, melangkah keluar dengan kepala terangkat, membuka pintu dan menutupnya dengan kasar. Berbagai perasaan campur aduk di hati Wayne. Betapa anehnya anak perempuan itu. Wayne sudah merasa dirinya aneh karena suka membiarkan dirinya dihukum, tapi dia lebih aneh lagi. Pasti anak kelas tiga. Baru sekali ini Wayne melihat dengan jelas wajah Luna. Wayne ingat, setiap kali ia dihukum, pasti Luna juga berada di sana. Tapi belum pernah ia melihat Ibu Wakil Kepsek semarah itu padanya.
Pasti kesalahan anak itu jauh lebih parah daripada sekedar minum kopi guru dan makan pete di saat guru akan mengadakan pemeriksaan bau mulut.

Beberapa hari setelah kejadian itu, Wayne sudah hampir melupakan Luna. Ia masih sibuk dengan hukuman-hukuman barunya. Kedua orang tuanya juga masih tak peduli padanya. Sampai suatu hari ia mendengar dari Toro bahwa seorang anak kelas tiga terpaksa dikeluarkan dari sekolah karena mencuri beberapa peralatan dari ruang musik.
“Namanya Luna.” jawab Toro saat Wayne menanyakan siapa anak yang dikeluarkan itu. Wayne tidak begitu kaget. Ia sudah menduganya sejak awal, sejak pertemuan pertama dengan Luna.
“Kasihan si Luna itu.” Wayne mendengar percakapan Yui dan Nancy yang kebetulan duduk persis di belakangnya.
“Memangnya kenapa?” tanya Yui. Wayne menajamkan pendengarannya.
“Kakakku yang sekelas dengan Luna bercerita, orang tuanya bercerai sejak ia masih kecil, dan ibunya menikah lagi dengan pria brengsek yang kini menjadi ayah tiri Luna. Mereka sering bertengkar. Padahal mereka itu sangat miskin. Ayah tiri Luna tidak bekerja sama sekali, bahkan lebih suka mabuk-mabukan dan main judi. Gaji ibu Luna sebenarnya lumayan, tapi selalu habis gara-gara suaminya. Aku pernah main ke rumahnya. Gila, ibu Luna tuh galaaak banget. Di depanku, ia berani menghajar Luna dengan gagang sapu. Kasihan banget Luna, ia paling takut sama ibunya, meskipun terhadap ayah tirinya Luna berani melawan.”

Aneh, Wayne belum pernah merasa sesemangat ini. Sore itu dengan mengendarai motornya ia mencari alamat Luna. Sulit juga soalnya rumah Luna terletak di gang kecil yang katanya berada di dalam gang kecil juga. Hampir satu jam Wayne berputar-putar. Ia hampir putus asa kalau saja tidak secara kebetulan dilihatnya sesosok makhluk yang ia cari-cari. Wayne menajamkan penglihatannya. Betul, itu dia si Luna. Tinggi ramping dengan kuncir ekor kuda. Jarak jangkauan tinggal tiga meter, dan ketika bertemu pandang, Wayne hampir menjerit saking kagetnya.
Astaga, si Luna ini, anak cewek tapi wajahnya begitu babak belur. Sekeliling matanya biru, bibirnya bengkak, dan rambutnya, walaupun ikatan kuncir kudanya masih ada, tapi jelas terlihat seperti habis dijambak dengan kasar.
Saat ‘ditemukan’ Wayne, Luna sedang berdiri sambil bertolak pinggang di dekat sumur. Begitu melihat Wayne, wajah gadis itu berubah sinis. Ditatap seperti itu Wayne sama sekali tidak merasa marah, bahkan ia menjadi semakin tertarik. Ia memarkir motornya di sebelah sumur.
Wayne mengulurkan tangannya. “Selamat ya, kamu berhasil dikeluarkan dari sekolah.”
Wajah Luna berubah, tidak sinis lagi. “Ngapain kamu ke sini?”
Wayne berdehem, lalu menirukan Luna bertolak pinggang.
Luna menurunkan tangannya. “Jangan kurang ajar ya!”
Wayne juga menurunkan tangannya. “Kamu hebat, dipukuli seperti itu tapi tidak merasa sakit.” Wayne mendekatkan wajahnya ke wajah Luna. Lalu berdecak kagum. “Wah, warna biru ini bagus sekali.”
Luna mundur satu langkah. Lalu mengepalkan satu tangannya. Tanpa banyak bicara ia langsung menjotos pipi Wayne yang dianggapnya kurang ajar. Wayne tidak sempat mengelak. Dipegangnya pipinya. Sakit. Tapi Wayne tetap tidak marah juga. Ia bahkan semakin berani menggoda Luna. Luna juga semakin marah. Setelah berhasil menggebuk Wayne untuk entah yang keberapa kalinya, tiba-tiba Luna berbalik dan lari sambil menutup wajahnya dengan tangan. Wayne kaget. Dikejarnya Luna sampai ke lapangan rumput yang tidak terawat dan sepi. Luna duduk di atas batu sambil menangis.
“Aduh, sori… aku nggak bermaksud membuatmu menangis…” Wayne berlutut di hadapan gadis itu yang tetap tidak mau melepaskan tangannya. “Aku cuma bercanda. Bener! Please jangan nangis dong…”
“Kamu… jahat!”
“Sori, sori. Abisnya penasaran sih, kamu yang galaknya setengah mati ternyata bisa nangis juga.”
“Kamu sengaja kan? Kamu… keterlaluan!”
Wayne tidak berani bicara lagi. Ia membiarkan Luna menyelesaikan tangisnya. Setelah mereda, ia masih belum berani bicara. Takut Luna tambah marah. Tapi setelah beberapa lama Luna tidak mau bicara, akhirnya Wayne memberanikan diri.
“Aku… mencarimu karena ada perlu denganmu, Luna.”
Luna tidak bereaksi apa-apa. Ia sudah tidak menangis, tidak menutup wajahnya lagi, tapi membuang muka.
“Karena kamu mirip aku… eh, mungkin keadaanmu lebih parah sih, tapi… aku tetap merasa kita ini senasib. Dan… eng…”
Kini Luna tidak membuang muka lagi.
“Aku mohon kamu membantuku memecahkan masalahku.” ujar Wayne tegas.
Luna membelalakkan matanya. “Gila!” serunya. “Katamu masalahku jauh lebih berat dari masalahmu. Bukannya kebalik, kamu yang mestinya membantuku.”
“Nggak. Kamu dulu yang harus membantuku. Kamu lebih berpengalaman terhadap masalah-masalah kecil kayak masalahku. Setelah itu baru kita eh… memikirkan masalahmu.”
Luna terlihat berpikir. “Masuk akal.” Ujarnya dengan nada tidak yakin. “Lebih baik kamu ceritakan dulu apa masalahmu.”
“Tidak!” seru Wayne sambil beranjak berdiri. “Lebih baik aku obati dulu luka-luka di wajahmu. Keliatan mengerikan, tau!”
Itu awal mula sebuah persahabatan baru. Tanpa disadari, Luna merasakan kepuasan tersendiri dalam membantu Wayne menghadapi masalahnya. Ini membuat Luna tidak lagi terlalu fokus pada dirinya sendiri karena ada orang lain yang butuh pertolongan. Sedangkan bagi Wayne, persahabatan itu membentuknya menjadi seseorang yang bukannya marah terhadap masalah, tapi berani menghadapinya dengan pandangan baru.

Written on Sep 26, 2003, edited April 24, 05

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *